Tuhan…Saat
pertama tangisku mengudara di bumi-Mu, saat itulah kesejukan merasuki gendang
telingaku. Sebelum aku mengeja dunia ini lebih jauh, sebelum aku tahu manisnya
gula dan asamnya cuka, sebelum aku tahu
ada tawa juga ada tangis. Kata ibu, Ayah telah mengenalkan nama-Mu lewat
panggilan suci, Adzan. Aku tidak tahu untuk apa? Hanya mencoba mengerti bahwa
tiada yang abadi selain Dirimu. Terlebih saat mereka, orang-orang terdekat, Kau
renggut tanpa permisi.
Tuhan…Aku
ingin marah pada-Mu, Kenapa kau ciptakan luka? Kenapa kau hadirkan tangis?
Kenapa musibah menimpa bertubi-tubi? Apa
Salah kami? Tetapi, aku tersadar, Kau yang menggemgam jiwa ini. Bahkan nafas
yang tersisa ini adalah milik-Mu.
Tuhan…Lihatlah!
Perempuan yang hanya nampak tulang di sana. Dulu, ia tidak seperti itu. Dulu,
ia teramat bahagia melihat anak-anaknya bercanda, tertawa, bertengkar kecil.
Kini, semuanya nampak berbeda. Wajahnya jarang menyimpulkan senyum, terlihat
jelas sisa-sisa luka yang masih menggelayut dengan sempurna. Apa yang telah Kau
lakukan Tuhan? Apa kesalahannya. Dia itu ibuku. Aku sudah bosan memungut air
mata dukanya.
Lihat
juga laki-laki berkumis di sana. Ia memang masih terlihat kokoh, berbeda dengan
ibu. Tetapi aku tahu, dalam jiwanya penuh kegalauan. Lihatlah, jarang sekali
dia di rumah. Hanya malam ketika mata sudah mengajak sunyi bermimpi, itu pun
jika hatinya sedikit tenang. Ia, laki-laki itu sengaja menyibukkan dirinya di
luar rumah. Bekerja dan bekerja. Untuk apa? Ia tidak ingin larut dalam duka. Ia
ingin menumpahkan sakitnya pada kesibukannya. Lelaki itu ayahku. Ayah yang
teramat tegar meski semua yang ia lakukan berakhir dengan kekecewaan.
Tuhan…Kau
tahu kan, Ibu selalu mengajarkanku doa. Sebelum dan sesudah tidur, sebelum dan
sesudah makan, sebelum dan sesudah bepergian, sebelum apa pun, sesudah apa pun.
Ibu selalu menyuruhku untuk menyebut-Mu di mana pun, apa pun yang aku lakukan.
Ibu sangat mencintai-Mu Tuhan. Apakah Kau juga mencintai Ibu?
Begitu
pun Ayah. Ayah selalu mengajarkan pada kami untuk berbuat baik pada siapa saja.
Untuk selalu menjalankan perintah-Mu dan meninggalkan larangan-Mu. Sesungguhnya
aku beruntung dilahirkan dari ibu yang lembut hatinya juga ayah yang teramat
bijaksana. Tetapi kenapa, cobaan tiada henti Kau berikan untuk Kami Tuhan?
Kenapa?
Mei
2000…
Telah
Kau ambil, ia kakak perempuanku yang baru saja menyelesaikan SMAnya. Dia yang
begitu manis dengan dua tahi lalat di atas bibirnya. Kata mitos, orang yang
punya tahi lalat di situ, orangnya cerewet dan pemarah. Hahaha, tapi memang
tidak salah. Ia memang cerewet, cerewet untuk menyuruhku tidak banyak bermain
di luar rumah. Sesungguhnya kakak perempuanku itu teramat baik. Ia cerewet juga
karena ia baik. Ia sayang pada kami. Ah, aku masih ingin lama bersamanya.
Dialah yang pertama kali mengajarkanku bagaimana cara menggunakan sepatu
bertali. Tuhan…Kenapa secepat itu ia Kau ambil dari kami? Di tengah hari yang
terik, udara seperti api. Kakak perempuanku kecelakaan. Rumah sakit hanya mampu
merawatnya selama 3 hari. Setelah itu? Ibu terkulai, ayah seperti daun gugur…
Tuhan…kami
menangis, tetapi kami tetap bersabar. Karena kami percaya, semua ini yang
terbaik untuk kami.
November
2007…
Telah
Kau benamkan saudaraku satu-satunya. Ia yang hidupnya dipenuhi ambisi mimpi.
Mimpi-mimpi untuk membangun rumah indah, untuk membahagiakan orangtua, untuk
menggapai bintang. Ia kakakku, sosok yang sangat bersahabat dengan laut. Laut
adalah dirinya dan dirinya adalah laut. Tetapi kenapa? Kenapa semua mimpi-mimpi
indah itu harus secepat itu terhenti? Kenapa secepat itu senyum Kau hapus dari
bibir ayah dan ibu? Kenapa Kapalnya Kau tenggelamkan. Bahkan hingga saat ini
tiada kabar dari sesiapa, tidak juga dari camar yang selalu terbang menghiasi
udara laut. Entah kemana pemimpi gila itu?
Masih adakah di bumi ini atau sudah lenyap dimakan hantu laut. Di mana Tuhan, dimana
kakakku?
Tuhan…Dia
kakak laki-lakiku satu-satunya, Dia masih muda, dia sangat dibanggakan
orangtuaku. Lihatlah, ibu sakit-sakitan hingga tubuhnya berbungkus tulang. Ayah
seperti hidup tanpa arah yang jelas. Mereka sudah cukup tegar, mereka lelah
untuk tetap tegar. Kau tahu kan, badai datang bertubi-tubi menguji bahtera yang
ayah kemudikan. Bahkan mereka pernah hampir memutuskan untuk berpisah. Banyak
hal yang kutemukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Menari di atas darah itulah mereka.
Tuhan…bukan
maksudku untuk menyalahkan-Mu. Bukan pula aku mengeluh. Bukan juga aku tidak
bisa menerima takdir-Mu. Tetapi, aku hanya ingin tidak ada lagi air mata hadir
di pelupuk ibu, di pipi ayah. Aku ingin agar semuanya kembali seperti dulu.
Seperti senyum bidadariku yang cantik. Seperti tatap lembut jagoanku yang
gagah.
Tuhan…Aku
ingin seperti dulu. Ya seperti dulu lagi.
Subhanallah…Maha
Suci Engkau..
Maapkan
kami yang kotor ini. Kami terlalu rapuh untuk bisa memahami-Mu. Terutama aku,
aku selalu berprasangka buruk atas apa yang telah Kau timpakan pada kami.
Tuhan…Bersihkan hatiku, hati ibu, hati ayah. Berilah penerang pada kami. Agar
kami tetap istiqomah bersujud pada-Mu.
Allahuakbar…Kau
lah yang Maha Besar
Kami
ini hanya kecebong kecil di hadapan-Mu. Maka kumohon, beri kami hidup yang
bahagia, tanpa luka, tanpa bukit lara. Jadikanlah kami orang-orang yang hatinya
seperti telaga. Tenang, damai, dan tetap
sabar.
Tuhan…Aku
ingin melihat ibu kembali tersenyum seperti dulu. Aku tidak ingin ia larut
dalam kepedihan. Aku sudah bosan melihat air matanya.Ia menangis saat
menggenggam poto kakak-kakakku, ia menangis menyaksikan pernikahan teman
kakak-kakakku, ia menangis dengan semua memori yang tidak bisa dihilangkan. Aku
sudah berusaha untuk selalu menenangkan ibu. Tetapi aku justru ikut menangis
saat ibu memelukku.
Tuhan…Aku
rindu Sholat jumat bersama ayah. Sudah lama…Ia teramat sibuk dengan
pekerjaannya. Aku ingin seperti mereka yang setelah Jumat selesai, mereka
mencium tangan ayahnya. Oh Ayah, untuk apa? Untuk apa kau terlalu menyibukkan
diri bila untuk melupakan sakitmu? Ikhlaskan ayah, ikhlaskan…
Ketika Mawarku, Kau renggut tanpa
permisi
Saat itulah jiwaku
begitu tersakiti
Ketika Pedangku,Kau benamkan di
dasar misteri
Saat itulah hatiku menjerit ngeri
Ketika Anggrekku
layu,bertahun-tahun tanpa mentari
Saat itulah Aku ingin jauh berlari
Ketika Semua masalah menghampiri dan hatiku
sangat terbebani
Saat itulah aku bertanya, Untuk apa aku di sini?
Saat itulah aku bertanya, Untuk apa aku di sini?
Aku marah, aku benci, aku meratap
Aku marah pada-Mu, Kenapa kau ambil
semua yang Kau beri?
Aku benci pada-Mu, kenapa harus
mereka?
Aku meratap, mencari arti apa
sesungguhnya yang Kau mau..
Oh aku salah
Kini aku mengerti…
Kini aku mengerti…
Tuhan
Mawarku boleh kau rengggut..
Pedangku silahkan kau benamkan
Anggrekku biarkan tetap layu..
Mereka bukan milikku, Mereka
milik-Mu..
Bahkan nafas yang tersisa ini
berada dalam genggaman-Mu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar