SELAMAT DATANG,KAWAN
SELAMILAH JEJAKKU DI SINI
Tampilkan postingan dengan label Diary Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2012

Mau Dikasih Makan Apa?


Pertanyaan yang sama selalu ditujukan ketika saya utarakan niat baik saya untuk berhenti menjomblo dengan jalan menikah. Saya sebenarnya ingin tahun ini juga menghentikan status jomblo ini. Tapi orangtua inginkan tahun depan saja. Meminjam lagunya Melly Goeslow " Sudah diubun-ubun cinta mengusik resah, tak dapat kumelawan walau hatiku menjerit." Ya, begitulah yang terjadi pada saya. Sungguh sendiri itu dosa, beristri itu pahala. Namun ternyata banyak yang terheran-heran dengan niat saya mengakhiri status menyakitkan ini. Aneh banget, coba kalo saya memutuskan untuk punya pacar, gak ada yang akan terheran-heran. Mereka bertanya seperti ini," Mau kamu kasih makan apa anak dan istrimu."

Itu pertanyaan benar-benar menyesakkan. Saya tahu mereka bertanya seperti itu kepada saya karna saat ini saya sedang tertatih-tatih mencari rejeki. Ngelamar kerja sana sini tak jua punya titik terang. Mencoba dengan jalan usaha, tak ada dukungan. Tapi saya tidak putus asa, saya selalu meyakini bahwa semua akan indah pada waktunya. Saya punya Allah yang sangat sayang pada saya meski saya masih sering hanyut dalam maksiat. Tapi saya meyakini, niat baik akan selalu diberikan jalan olehNya. You'll find the way, Mas Maher menyemangati saya dengan lagunya.

Menikah itu sangat disukai Allah dan pacaran sangat dibenci Allah. Pacaran rentan maksiat, menikah rentan rahmat(Ngutip status facebook teman). Sepasang suami istri yang saling menatap dengan nafsu, Allah akan menatap mereka dengan rahmat(ngutip di gramedia, bukunya lupa apa judulnya). Keren kan?
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS_An Nuur_32).

Itu kan, Lu percaya gak dengan Al-qur'an. kalo percaya kenapa lu takut gak bisa kasih makan anak istri.xixixi.

Masalahnya adalah kita masih jauh dengan Allah, sehingga kita tahu ada jaminan berupa janjiNya, tapi kita tetap ragu. Manusia selalu menghitung dengan logika, tapi hitungan Allah adalah 'kun faya kun'. Karena itu saya mengajak jamaah terkhusus saya sendiri untuk selalu meningkatkan ketakwaan pada Allah swt(udah kayak pembukaan khutbah jum'at aja).

An-nur: 32 telah terbukti oleh mata kepala saya sendiri. Ubak dan Umak saya menikah tanpa sepeser pun uang. Mereka tinggal di sawah warisan nenek. Tapi buktinya, kami bisa punya rumah, saya bisa kuliah. Masih gak percaya? :) Ayuk dan kakak ipar saya, saya ingat betul, setelah menikah mereka hanya jualan ikan di pasar, sekarang? sudah jadi bos ikan, karyawannya banyak, rumahnya mewah, anaknya yang masih SD udah dibelikan laptop.hehe. Semua akan indah pada waktunya.

Karna itu syawal depan, apapun yang terjadi, saya akan mengakhiri status jomblo ini. Please, jangan bertanya lagi,"mau kasih makan apa?". Jika ingin menunggu kaya dulu baru menikah, usia berapa kau akan menikah. Menikahlah, maka kau kan kaya.

Saya selau percaya, percaya, dan percaya. Meski saya masih jauh dariNya. Mari percaya selalu pada janji-janjiNya.

Jangan terpedaya jaman kacau seperti ini. Pacaran dibenarkan, menikah dipertanyakan. Aneh.


Rabu, 26 September 2012

RISALAH INI BERNAMA TANYA


Tuhan…Saat pertama tangisku mengudara di bumi-Mu, saat itulah kesejukan merasuki gendang telingaku. Sebelum aku mengeja dunia ini lebih jauh, sebelum aku tahu manisnya gula dan asamnya cuka, sebelum  aku tahu ada tawa juga ada tangis. Kata ibu, Ayah telah mengenalkan nama-Mu lewat panggilan suci, Adzan. Aku tidak tahu untuk apa? Hanya mencoba mengerti bahwa tiada yang abadi selain Dirimu. Terlebih saat mereka, orang-orang terdekat, Kau renggut tanpa permisi.

Tuhan…Aku ingin marah pada-Mu, Kenapa kau ciptakan luka? Kenapa kau hadirkan tangis? Kenapa musibah menimpa bertubi-tubi?  Apa Salah kami? Tetapi, aku tersadar, Kau yang menggemgam jiwa ini. Bahkan nafas yang tersisa ini adalah milik-Mu.

Tuhan…Lihatlah! Perempuan yang hanya nampak tulang di sana. Dulu, ia tidak seperti itu. Dulu, ia teramat bahagia melihat anak-anaknya bercanda, tertawa, bertengkar kecil. Kini, semuanya nampak berbeda. Wajahnya jarang menyimpulkan senyum, terlihat jelas sisa-sisa luka yang masih menggelayut dengan sempurna. Apa yang telah Kau lakukan Tuhan? Apa kesalahannya. Dia itu ibuku. Aku sudah bosan memungut air mata dukanya.

Lihat juga laki-laki berkumis di sana. Ia memang masih terlihat kokoh, berbeda dengan ibu. Tetapi aku tahu, dalam jiwanya penuh kegalauan. Lihatlah, jarang sekali dia di rumah. Hanya malam ketika mata sudah mengajak sunyi bermimpi, itu pun jika hatinya sedikit tenang. Ia, laki-laki itu sengaja menyibukkan dirinya di luar rumah. Bekerja dan bekerja. Untuk apa? Ia tidak ingin larut dalam duka. Ia ingin menumpahkan sakitnya pada kesibukannya. Lelaki itu ayahku. Ayah yang teramat tegar meski semua yang ia lakukan berakhir dengan kekecewaan.

Tuhan…Kau tahu kan, Ibu selalu mengajarkanku doa. Sebelum dan sesudah tidur, sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah bepergian, sebelum apa pun, sesudah apa pun. Ibu selalu menyuruhku untuk menyebut-Mu di mana pun, apa pun yang aku lakukan. Ibu sangat mencintai-Mu Tuhan. Apakah Kau juga mencintai Ibu?

Begitu pun Ayah. Ayah selalu mengajarkan pada kami untuk berbuat baik pada siapa saja. Untuk selalu menjalankan perintah-Mu dan meninggalkan larangan-Mu. Sesungguhnya aku beruntung dilahirkan dari ibu yang lembut hatinya juga ayah yang teramat bijaksana. Tetapi kenapa, cobaan tiada henti Kau berikan untuk Kami Tuhan? Kenapa?

Mei 2000…
Telah Kau ambil, ia kakak perempuanku yang baru saja menyelesaikan SMAnya. Dia yang begitu manis dengan dua tahi lalat di atas bibirnya. Kata mitos, orang yang punya tahi lalat di situ, orangnya cerewet dan pemarah. Hahaha, tapi memang tidak salah. Ia memang cerewet, cerewet untuk menyuruhku tidak banyak bermain di luar rumah. Sesungguhnya kakak perempuanku itu teramat baik. Ia cerewet juga karena ia baik. Ia sayang pada kami. Ah, aku masih ingin lama bersamanya. Dialah yang pertama kali mengajarkanku bagaimana cara menggunakan sepatu bertali. Tuhan…Kenapa secepat itu ia Kau ambil dari kami? Di tengah hari yang terik, udara seperti api. Kakak perempuanku kecelakaan. Rumah sakit hanya mampu merawatnya selama 3 hari. Setelah itu? Ibu terkulai, ayah seperti daun gugur…
Tuhan…kami menangis, tetapi kami tetap bersabar. Karena kami percaya, semua ini yang terbaik untuk kami.

November 2007…
Telah Kau benamkan saudaraku satu-satunya. Ia yang hidupnya dipenuhi ambisi mimpi. Mimpi-mimpi untuk membangun rumah indah, untuk membahagiakan orangtua, untuk menggapai bintang. Ia kakakku, sosok yang sangat bersahabat dengan laut. Laut adalah dirinya dan dirinya adalah laut. Tetapi kenapa? Kenapa semua mimpi-mimpi indah itu harus secepat itu terhenti? Kenapa secepat itu senyum Kau hapus dari bibir ayah dan ibu? Kenapa Kapalnya Kau tenggelamkan. Bahkan hingga saat ini tiada kabar dari sesiapa, tidak juga dari camar yang selalu terbang menghiasi udara laut. Entah kemana pemimpi gila itu?  Masih adakah di bumi ini atau sudah lenyap  dimakan hantu laut. Di mana Tuhan, dimana kakakku?
Tuhan…Dia kakak laki-lakiku satu-satunya, Dia masih muda, dia sangat dibanggakan orangtuaku. Lihatlah, ibu sakit-sakitan hingga tubuhnya berbungkus tulang. Ayah seperti hidup tanpa arah yang jelas. Mereka sudah cukup tegar, mereka lelah untuk tetap tegar. Kau tahu kan, badai datang bertubi-tubi menguji bahtera yang ayah kemudikan. Bahkan mereka pernah hampir memutuskan untuk berpisah. Banyak hal yang kutemukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.  Menari di atas darah itulah mereka.
Tuhan…bukan maksudku untuk menyalahkan-Mu. Bukan pula aku mengeluh. Bukan juga aku tidak bisa menerima takdir-Mu. Tetapi, aku hanya ingin tidak ada lagi air mata hadir di pelupuk ibu, di pipi ayah. Aku ingin agar semuanya kembali seperti dulu. Seperti senyum bidadariku yang cantik. Seperti tatap lembut jagoanku yang gagah.
Tuhan…Aku ingin seperti dulu. Ya seperti dulu lagi.

Subhanallah…Maha Suci Engkau..
Maapkan kami yang kotor ini. Kami terlalu rapuh untuk bisa memahami-Mu. Terutama aku, aku selalu berprasangka buruk atas apa yang telah Kau timpakan pada kami. Tuhan…Bersihkan hatiku, hati ibu, hati ayah. Berilah penerang pada kami. Agar kami tetap istiqomah bersujud pada-Mu.
Allahuakbar…Kau lah yang Maha Besar
Kami ini hanya kecebong kecil di hadapan-Mu. Maka kumohon, beri kami hidup yang bahagia, tanpa luka, tanpa bukit lara. Jadikanlah kami orang-orang yang hatinya seperti telaga. Tenang, damai,  dan tetap sabar.
Tuhan…Aku ingin melihat ibu kembali tersenyum seperti dulu. Aku tidak ingin ia larut dalam kepedihan. Aku sudah bosan melihat air matanya.Ia menangis saat menggenggam poto kakak-kakakku, ia menangis menyaksikan pernikahan teman kakak-kakakku, ia menangis dengan semua memori yang tidak bisa dihilangkan. Aku sudah berusaha untuk selalu menenangkan ibu. Tetapi aku justru ikut menangis saat ibu memelukku.
Tuhan…Aku rindu Sholat jumat bersama ayah. Sudah lama…Ia teramat sibuk dengan pekerjaannya. Aku ingin seperti mereka yang setelah Jumat selesai, mereka mencium tangan ayahnya. Oh Ayah, untuk apa? Untuk apa kau terlalu menyibukkan diri bila untuk melupakan sakitmu? Ikhlaskan ayah, ikhlaskan…
Ketika Mawarku, Kau renggut tanpa permisi
Saat itulah jiwaku begitu tersakiti

Ketika Pedangku,Kau benamkan di dasar misteri
Saat itulah hatiku menjerit ngeri

Ketika Anggrekku layu,bertahun-tahun tanpa mentari
Saat itulah Aku ingin jauh berlari
Ketika Semua  masalah menghampiri dan hatiku sangat terbebani
Saat itulah aku bertanya, Untuk apa aku di sini?

Aku marah, aku benci, aku meratap
Aku marah pada-Mu, Kenapa kau ambil semua yang Kau beri?
Aku benci pada-Mu, kenapa harus mereka?
Aku meratap, mencari arti apa sesungguhnya yang Kau mau..

Oh aku salah
Kini aku mengerti…

Tuhan
Mawarku boleh kau rengggut..
Pedangku silahkan kau benamkan
Anggrekku biarkan tetap layu..
Mereka bukan milikku, Mereka milik-Mu..
Bahkan nafas yang tersisa ini berada dalam genggaman-Mu.