SELAMAT DATANG,KAWAN
SELAMILAH JEJAKKU DI SINI
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

ISTIQOMAHLAH !

(KULTUM YANG SAYA SAMPAIKAN KEMARIN PADA LIQO' SYAWAL INTERNAL HTI PALEMBANG/25/08/2013) :)

Alhamdulillah, kita dapat dipertemukan oleh Allah dalam acara liqo’ stawal yang insha allah dalam keadaan yang berbahagia, Bagaimana tidak bahagia berkumpul bersama saudara-saudara yang punya pemikiran yang sama, perasaan yang sama, untuk bersama-sama menegakkan aturan yang sama yaitu tegaknya aturan Islam dalam bingkai daulah Khilafah Islamiyah.

Hari ini kita berkumpul di sini guna menguatkan ukhuwah untuk saling menyemangati dalam dakwah. Karna itulah kenapa Allah menyuruh kita berjamaah. Islam tegak bukan oleh individu –individu tetapi oleh jamaah.
Umar bin Khattab pernahberkata: “Wahai masyarakat Arab, tidak ada islam kecuali dengan jama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan,dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan”
(HR. Bukhari)

Saya ingat sywal tahun lalu, saya masih berkumpul dengan teman-teman satu halqoh saya. Kami berlima. Tapi hari ini, tinggal dua yang masih bertahan dalam jamaah ini. Dan lihatlah apa yang terjadi setelah teman-teman saya itu sedikit demi sedikit meninggalkan jamaah ini.

Dengan maksiat mereka tiada malu lagi. Maka betapa sedihnya saya ketika tahu teman dekat saya memenuhi nau’nya dengan cara yang tidak disyari’atkan Islam. Mereka pacaran, mereka sama dengan orang-orang kebanyakan. Padahal mereka tahu hukum pacaran itu haram. Setelah lepas dari jamaah mereka berani bisnis multi level marketing, padahal sudah dijelaskan oleh musrif bahwa mlm itu haram.
Benarlah kata Rasul," Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian."
(HR. Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i)

Dan kita yang di sini pun tidak ada yang menjamin akan bertahan pada jalan mulia ini. Siapa yang bisa menjamin? Bukanmusrif, bukan asdir, bukan mas’ul, melainkan diri kita sendiri.

Saya ingat teman halqoh saya pernah berkata sebelum dia meninggalkan jamaah. “Andai pun saya tidak bergabung dengan harakah, namun saya berkomitmen untuk terus mengemban dan meyakini ide-ide harakah. Saya hanya tidak bersama jama'ah, namun tetap ideologis."

Hebat ya? Bisa menjamin dirinya. Menjamin apa? Dia tidak sadar kalau dia sedang menjanjikan kemaksiatannya. Dari awal saja sudah beranda-andai untuk keluar maka itu yang terjadi. Maka yang bisa menjamin kita tetap ada di sini adalah kita sendiri. Sebab apa, semua sudah dijelaskan. Mulai dari akidah sampai dakwah. Karena itu kita bisa menjadi darits setelah dianggap sudah memahami dan sudah mengetahui konsekuensinya.Namun yang bisa menjamin tetap diri kita sendiri.Mau tetap di jalan ini atau memilih pilih jalan yang lain itu terserah kita. Karena Allah tidak butuh kita tapi kita yang butuh Alllah. Dakwah tidak butuh kita tapi kita yang butuh dengan dakwah. Khilafah tidak butuh kita tetapi kita yang butuh Khilafah.

Saya punya cerita, tersebutlah seorang atlet renang yang akan menyebrangi sungai Barito yang luasnya 900 m. meter demi meter ia lewati dengan mudah, sampe 10 meter ia masih bisa melambaikan tangan pada teman-temannya di tepi keberangkatannya.

Memasuki meter ke-500 ia mulai kelelahan namun masih melanjutkan perjalanannya. Memasuki meter  ke 700 nafasnya mulai tersengal, kayuhannya mulai lemah, tetapi dia masih bersemangat melanjutkann perjalanan.
Memasuki meter delapan ratus, ia mulai menyerah, meski begitu ia terus melaju. Jarak seratus meter yang tersisa, terasa begitu jauh di matanya yang berkunang-kunang.

Tepat di meter ke 890, ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk melanjutkan penyeberangan. Padahal tepi sungai tinggal sepuluh meter lagi. Karena tidak sanggup meneruskan penyeberangan, ia memutuskan kembali, berbalik arah, dan berenang ke tepian sungai tempat ia memulai penyeberangan.

Kata apa yang tepat untuk atlet renang ini," Konyol","bodoh". Alangkah bodohnya kita yang sudah berada pada jamaah yang dirihoi Allah ini tetapi harus kembali pada titik semula. Pada masa lalu kelam kita.


Jika kita baratkan tepi keberangkatan si perenang adalah masa kelam kita, dan tepi tujuan adalah husnul-khatimah kita, bukankah konyol jika mundur ke belakang, meninggalkan perjuangan, dan kembali pada kondisi awal sebelum kita berjuang. Bukankah itu lebih konyol?

Jika kita menyadari bahwa semakin hari umur kita semakin menuju penghujungnya, seharusnyalah kita meyakini bahwa perjalanan kita akan segera berakhir. Seharusnyalah kita meneruskan perjuangan hingga ke ujungnya. Pantang berhenti, apalagi mundur ke belakang. 


Karena itu ikhwah, saya yakin kita semua di sini bertekad untuk istiqomah. Namun istiqomah itu tak cukup dengan kata-kata. Karna itulah saya berusaha untuk tetap istiqomah dengan cara saling menguatkan dalam dakwah, yaitu dengan mencari teman sejati alias menikah. Dalam kesempatan ini jugalah saya mengundang syabab semuanya untuk dapat menghadiri pernikahan dan resepsi acara saya pada tanggal 1 september 2013.

Mungkin itu saja,
Jika ada jarum yang patah
Jangan disimpan dalam peti
Jika ada kata-kata yang salah
Jangan dilaporin ke polisi


.

INSPIRASI UNTA

Wa ilal ibili kayfa khuliqat."
Setiap sholat jumat. Biasanya kita mendengarkan ayat tersebut dibacakan dengan merdu oleh imam. Namun, pernahkah kita merenungkan maknanya?

***

Makna dan terjemah adalah dua hal yang berbeda. Terjemah dari ayat tersebut adalah,
"Dan unta, bagaimana ia diciptakan?"
Sudah, begitu saja. Selesai. Itulah terjemah.
Adapun makna, ia jauh lebih mendalam dari sekedar mengubah kata Arab menjadi kata Indonesia. Makna, memerlukan perenungan yang serius. Dan sebelumnya, diperlukan pula pencermatan terhadap fakta.

***


Sekarang, mari duduk sejenak bersama saya, merenungkan maknanya.

"Dan unta, bagaimana ia diciptakan?"
Setidaknya, ada dua pelajaran dari unta.

***

Pertama, ia dirancang memang untuk berjalan di padang pasir. Maka, kakinya tidak pernah terperosok saat melangkah.

***


Kedua, ia memang dirancang untuk perjalanan jauh. Sedangkan, sepanjang perjalanan belum tentu ditemukan air untuk membasahi tenggorokannya.
Maka, unta dilengkapi Allah dengan kantung penyimpanan air minum, yang mampu menampung berliter-liter air di punuknya. Itu bekal yang cukup untuk perjalanan beberapa hari tanpa minum.

***

Pelajarannya?
Ya... bukankah unta akan melakukan perjalanan panjang? Dan bukankah sepanjang perjalanan itu belum tentu ada kesempatan untuk minum? Dan bukankah unta telah menyiapkan bekalnya, sebab ia tahu bahwa saat ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menyiapkan bekal, bukan besok atau lusa?


***

Lalu?

Bukankah perjalanan menuju akhirat adalah rute yang demikian panjang?

Bukankah setelah kita meninggalkan dunia ini, sama sekali tidak ada kesempatan untuk berkekal lagi?

Bukankah kita tidak tahu sedikitpun kapan kita akan meninggalkan dunia ini?

Bukankah itu berarti, satu-satunya kesempatan untuk menyiapkan bekal menuju akhirat, adalah hari ini?

***

Jika semua tanya itu terjawab dengan 'Ya!', lalu tunggu apa lagi? Berbekallah. Persiapkan amal terbaik yang bisa kita lakukan untuk agama ini.
Tunggu apa lagi? Lakukan sekarang, atau bisa jadi kita tidak akan sempat melakukannya lagi.

(Inspr by Ust Abu Hamzah)



Kamis, 20 Juni 2013

Rinduku, Rindu Dia, Rindu Kita


Aku membaca kerinduan dari setiap mata yang lelah karena menangis. Menangis karena beban yang bertumpuk-tumpuk. Menangis tetapi tiada tahu harus menumpahkan pada bahu siapa. Kepada siapa lagi? Yang diharapkan bisa memberikan madu kebahagiaan ternyata yang diberikan adalah racun penderitaan. Racun itu bertambah lagi ketika tuan-tuan yang dikira malaikat tertawa bersama menyeduhkan racun bernama kenaikan BBM.

Disinilah aku membaca kerinduan itu. Bahkan aku mendengar suaranya. Katanya aku rindu pada Suharto meski tak suka pada sistemnya. Mendengarnya membuat airmata ini jatuh. Apakah mereka tak tahu ada masa yang jika boleh aku menamainya setangah firdaus di dunia. 13 abad ia telah menaungi dunia. Dan dengarlah kerinduan-kerinduan ini.

Di masa itu tak ada yang inginkan zakat. Sekarang? manusia bertaruh nyawa demi antri bantuan langsung tunai.

Hanya ada di masa itu seorang pemimpin menangis jika ada kambing yang terperosok karena jalan tidak rata. Sekarang?

Hanya pada masa itu guru TPA saja digaji sebanyak 15 dinar atau setara 32 juta.

Hanya pada masa itu pendidikan dan kesehatan diberikan gratis tanpa pandang dulu. Kaya miskin sama saja.

Hanya pada masa itu, dalam naungannya selama 13 abad hanya terjadi +200 kasus potong tangan. Sekarang?

Hanya pada masa itu seoarang pemimpin berani berkata jika anakku yang mencuri biarlah aku sendiri yang memotong tangannya. Sekarang?

Hanya pada masa itu satu wanita yang diganggu, maka perang langsung diteriakkan.

Dan aku takkan mampu untuk menulis keindahannya lebih banyak di sini. Tapi paling tidak aku ingin mengajakmu merindu pada yang harusnya benar-benar kau rindukan. Karena jika kau tahu indahnya hidup di masa itu, kau akan sama denganku: menangis karena sangat merindukannya lalu memperjuangkannya.

Tentu saja  wajar jika aku menyebutnya setengah firdaus di dunia. Karena ia adalah sistem yang berasal dari yang menciptakan Firdaus. Ia adalah sistem dari yang menciptakan dunia dan seisinya. Ia adalah KHILAFAH.
Dan tersenyumlah, kawan. Mari ikut barisan memperjuangkan kembali Khilafah yang sama-sama kita rindukan.


Palembang, 18 Juni 2013



Tak Cukup dengan Mata, Tak Terang dengan Rasa


Kadang tak selalu apa yang dilihat mata menjadi pembenaran, sebab mata takkan mampu melihat dibalik dinding juga tak dapat melihat dalam kegelapan. Kadang pula tak cukup hanya bersandar pada perasaan, sebab perasaan lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan. Seperti tiga hari lalu yang telah saya catat sebagai penyesalan juga pengalaman.

Awalnya saya tak percaya ketika membaca brosur dari CintaQuran yang dengan tulisan besar menuliskan BISA MEMBACA ALQURAN HANYA DALAM WAKTU 6 JAM. Lalu logika mulai bergerak, perasaaan ajak untuk menolak.
” Ah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa baca qur’an dalam 6 jam. Saya saja belajar iqro’ butuh waktu berbulan-bulan. Ini pasti akal-akalan. Khayalan.”

Begitulah ketika mata tak mampu menjangkau yang jauh. Ketika perasaan menjadi sandaran perbuatan. Namun meski saya tidak percaya, saya tetap datang pada acara itu (apalagi dapat beasiswa.hehe). Setelah mengikuti jam per jam. Di 3 jam pertama saya sudah menyesal. 3 jam berikutnya lebih menyesal lagi. Di ruangan itu ada beberapa yang sebatang alif pun tak dikenal. Di ruangan itu ada beberapa yang belum bisa sambungkan huruf per huruf. Tetapi 6 jam berlalu, segalanya berubah. Yang tak kenal sebatang alif menjadi bisa membaca huruf yang telah tersambung.  Semula yang menurut saya tak masuk akal, tetapi menjadi sangat masuk akal ketika saya tahu metodenya.

Sesampai di rumah saya merenung. Sebuah pertanyaan keluar dari hati bertanya pada diri.

“Jika kamu seperti itu, apa bedanya dengan mereka yang meragukan tegaknya kembali Khilafah?”

Saya tersentak. Benar. Apa bedanya saya dengan mereka yang tak percaya. Yang mengatakan Khilafah itu mimpi. Khilafah itu ilusi. Apa bedanya?

Dari sini, kawan. Saya coba bagikan pelajaran. Sungguh aneh jika ada yang menyimpulkan isi dari sebuah buku, padahal memegang buku apalagi untuk membacanya saja belum. Tak elok rasanya menilai perjuangan saudara kita yang inginkan Islam kembali diterapkan sementara tak ikut memperjuangkannya.

Kenapa dahulu Islam Berjaya memimpin dunia? Karena para sahabat tak pernah bertanya "Apa mungkin bisa?". Tengoklah ketika Salman Al Farisi memberikan idenya untuk menggali parit pada perang Khandaq. Tak ada satu pun sahabat yang bertanya,” apa mungkin dengan menggali parit kita dapat mengalahkan musuh.” Yang keluar justru pertanyaan yang menurut orang tak beriman adalah pertanyaan gila. Apa pertanyaannya?
“Ya Rasul. Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” 

 Dua kota yang jika dipikirkan dengan logika pastilah yang keluar dari mulut adalah gila. Parit saja belum jadi sudah membicarakan penaklukkan kota lain. Tetapi sebutan-sebutan gila itu memang selalu terlontarkan kepada yang beriman. Karena  mereka percaya lebih dari apa yang mata lihat. Mereka tak jadikan perasaan sebagai sandaran. Karena apa saja yang termaktub dalam alqur’an itulah kebenaran. Begitupun, apa saja yang keluar dari Mulut Rasulullah itu sudah cukup meski satu milyar manusia mentertawakannya dan menganggapnya tak masuk akal.





Palembang, 19 juni 2013

Kamis, 18 April 2013

IJINKAN AKU JADI CAHAYA

SAAT RESAH DALAM GELAP:

Tuhan, ijinkan kubertanya
Untuk apa Kau ciptakan seorang oksa
Dari milyaran manusia jelas ia bukan siapa-siapa
Hanya mahluk kecil yang tak punya daya lagi nista
Padahal meski tak Kau hadirkan ia, Takkan membuat sepinya dunia
Lalu untuk apa Kau ciptakan ia?
Hanya membuatnya bergelimang dosa lalu masuk ke neraka
Karna Kau sendiri yang katakan bahwa dunia ini penuh tipu daya
Dan jelas seorang oksa mudah sekali terpedaya
Tak tahu tujuan hidupnya

NAMUN KINI CAHAYA ADA DI DEPAN MATA:

Tuhan, kusadari diri ini hanya sebutir debu di hadapanMu
Tapi aku tak ingin jadi debu yang dibawa angin lalu hilang dan berlalu
Aku mencari tujuan hidupku
Untuk apa Kau ciptakan aku?

Setelah mengorbankan jiwa dan waktu
Akhirnya aku mendapatkan jawaban bersumber dari kebenaran yang tercatat dalam kitabMu
Tak lain untuk mengabdil padaMu
Menjadi berarti bagi seluruh jiwa yang masih ragu padaMu
Karna itu Tuhan, ijinkan aku jadi cahaya di tengah gulita yang melanda bumiMu
Meski aku bukan Muhammad kekasihMu

Minggu, 13 Januari 2013

Percayalah, Rizki-mu Hanya DariNya

Rasa takut menjadi sifat manusia. Celakanya ketakutan yang terjadi adalah takut pada yang belum terjadi. Beberapa malam yang lalu teman saya mengirim sebuah pesan berisi curhatan hatinya.

“Aku Ingin menikah tapi aku takut aku tidak mampu. Gajiku hanya 1.500.000. Bagaimana mungkin aku akan bertanggungjawab pada anak gadis orang. Untuk diriku sendiri tak cukup.”

Aku tersenyum membaca pesan itu. Sungguh penghasilannya dua kali lipat dari penghasilanku. Bagaimana mungkin merasa tidak cukup?
Baiklah, aku ingin berbagi tentang keyakinanku bahwa rizki itu datangnya hanya dari Allah bukan dari manusia. Apa yang tertulis dalam pesan itu tersirat makna bahwa dialah yang berhak memberikan rizki kepada istrinya. Karena itu dia teramat takut. Padahal jika dia meyakini rizki itu hanya dari Allah. Tentu ketakutan tanpa alasan itu takkan terjadi.

“Allah tidak meminta rizki kepada engkau, kamilah yang memberi engkau rizki. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa”( QS Thaha :132)

Apa yang telah termaktub dalam kitab-Nya mutlak benar. Dan kebenaran itu telah kubuktikan sendiri. Adalah aku merasa malu ketika di usia yang sedewasa ini masih meminta pada orangtua. Karena itu aku beranikan diri apapun yang terjadi aku tidak boleh mengambil sedikitpun uang dari orangtuaku. Ketika aku diberi aku dengan lembut menolak.

“Tapi kau cuma guru SD. Apa cukup?” Umakku sangat khawatir.

Aku menjawab dengan melantunkan firman Allah :
“Allah Mahalembut kepada hamba-hambaNya, Dia memberi rizki kepada siapa yang Dia kehendaki” (asy-Syura:19)

Sesuatu yang memang aku rasa aneh. Dulu aku diberi uang berjuta-juta tapi habis dalam satu bulan untuk hal-hal yang tak berguna. Sekarang dalam sebulan penghasilanku hanya 600ribu-700ribu tapi aku masih bisa menyisakan banyak untuk membeli buku-buku.

Apakah setelah aku bertekad untuk tidak meminta lagi pada orangtua rizki-ku akan terhenti? Apakah aku akan mati kelaparan? Jawabnya tidak. Ada-ada saja jalan rizki itu. Percayalah?

Jika Allah cukupi semut hingga singa di hutan
Pantaskah kita berharap pada selain Allah? 


Pemuda Kahfi Hidup Kembali

Mungkin kau tak percaya jika kukabarkan tentang pemuda kahfi yang hidup kembali. Tetapi sungguh mereka ada di setiap negeri. Jika kau ingin mengenalinya ada tanda di wajah dan tubuhnya. Dan tanda yang akan cepat kau kenali adalah mereka berbeda dari pemuda lainnya. Masihkah kau ingat kisah pemuda kahfi? Ya, mereka yang rela sepi paling sunyi karena kebenaran. Itulah tanda yang kelak kan kau temui.

Jika pemuda lain merayu kekasih haram-nya, pemuda Kahfi merayu ampunan pada Tuhan-Nya. Jika pemuda lain berlomba-lomba mendapatkan kekayaan dengan cara apapun, pemuda kahfi bertanya apa sebenarnya yang dicari di dunia ini. Jika pemuda lain di pertengahan malam asik menikmati bir-bir dan musik-musik setan, pemuda kahfi meneteskan airmata di atas sajadah taubatnya. Jika pemuda lain membawa bendera-bendera demokrasi, pemuda kahfi hanya menyerukan untuk kembali pada Pencipta, kembali pada hukum Allah.

Karena itulah pemuda kahfi dikatakan aneh, gila, tidak normal, banci, bahkan teroris. Karena itulah setiap detiknya pemuda kahfi diburu anjing-anjing amerika. Namun tiada yang dapat menghentikan pemuda kahfi meski kematian di depan mata. Mereka tersenyum sebab kematian adalah jalan menuju Yang Paling Dicintai, Yang Paling Dirindukan.

Jika kau telah mengenal mereka, Maukah kau menjadi pemuda Kahfi atau Kau sama saja dengan pemuda lainnya?
********************************************************************************************************************************
Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir (HR. Muslim)


Rabu, 02 Januari 2013

DAKWAH MENGUBAH HIDUPMU


             Siapa yang tidak mengenal Umar bin Khattab. Seorang Khalifah yang sangat memikirkan keadaan rakyatnya. Beliau menangis saat tahu ada rakyatnya yang kelaparan. Beliau sangat takut jika seekor unta terseok dalam lubang karena jalan yang tidak bagus. Dan masih banyak cerita-cerita yang mengisahkan betapa mulianya Beliau di mata Islam. Beliau layak menjadi kekasih Allah. Namun tahukah siapa Umar bin Khattab sebelum mengenal Islam. Sebelum Beliau mewakafkan dirinya untuk tegaknya agama Allah. Beliau bukan siapa-siapa dan sangat tidak berarti apa-apa, bahkan  mungkin sangat dibenci oleh orang-orang yang mengenal Beliau karena banyaknya maksiat yang Beliau lakukan seperti minum-minuman keras dan lain-lain. Islam dan dakwahlah yang membuat Umar bin Khatab menjadi ‘Singa’ dalam Islam.

            Lalu contoh lain di zaman ini misalnya Ustad Felix Siauw. Saya percaya sebagian dari kita mengenal Islamic Inspirator ini. Siapa Beliau? Beliau juga bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa. Ada atau tidak adanya di dunia akan sama saja. Namun itu dulu sebelum Beliau mengenal Islam dan berkomitmen untuk total dalam berdakwah menyerukan Islam kepada umat. Ketika dijelaskan bahwa Islam sedang dikucilkan, Islam saat ini terpinggir di sudut-sudut zaman, Islam membutuhkan pedang-pedang Allah. Maka tak ada jalan lain selain dengan dakwah. Dan Beliau pun menjual dirinya untuk Islam. Semoga dibeli oleh Allah dengan surga firdaus-Nya. Aamiin.

            Komitmen untuk berdakwah mengubah hidup seseorang. Memang awalnya akan banyak cacian dan ejekan. Berubah itu butuh pengorbanan.  Apalagi dulu kita dikenal sangat jauh dari Islam. Contohnya lagi dari Ustad Felix. Beliau adalah non muslim. Lalu masuk Islam dan berani menyampaikan Islam di depan khalayak. Banyak suara-suara sumbang yang keluar. Misalnya “Ah muallaf aja belagu. Baru juga masuk Islam udah ngaku-ngaku Ustad. Sok paling benar, baca alqur’an saja tajwidnya kemana-mana.”

            Dakwah mengubah hidupmu. Mereka bilang “Baca alqur’an saja belum lurus, udah berani-berani menyampaikan Islam”. Pendakwah hebat tersenyum dan berterimakasih atas kritikan itu. Sepahit-pahit kritik semoga menjadi obat. Pendakwah hebat menjawab kritik itu dengan terus memperbaiki bacaan alqur’an bahkan menghapalnya.

Dakwah mengubah hidupmu. Mereka bilang “Kamu itu jangan sok. Bahasa arab saja tidak bisa”.  Pendakwah hebat tersenyum dan berterimakasih atas kritikan itu. Sepahit-pahit kritik semoga menjadi obat. Pendakwah hebat menjawab kritik itu dengan cara bertekad harus bisa bahasa arab dan tentu saja ia semangat untuk mempelajari bahasa arab. Mencari guru bahasa arab. Belajar.

            Dakwah adalah cinta. Dan jika seseorang telah jatuh cinta pada sesuatu, maka ia akan melakukan apapun untuk yang ia cintai. Seorang Ayah karena cinta kepada anak dan istrinya rela banting tulang, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki untuk dapat membahagiakan anak dan istrinya. Seorang Ibu akan mengorbankan nyawanya untuk melahirkan buah hati harapan jiwa. Akan melakukan apapun agar anaknya tumbuh menjadi anak yang diinginkan. Begitu pun dengan dakwah karena cinta pada Islam, rindu Islam kembali seperti pada masa keemasan-Nya, merindukan pemimpin seperti Umar bin Khattab yang hanya akan menjadi ketika ketika system yang diterapkan adalah Sistem Islam. Karena cinta itulah, pengemban dakwah akan terus meningkatkan kualitas dirinya baik nafsiyah maupun aqliyah. 


            Dakwah mengubah hidupmu. Tidak mungkin seorang pengemban dakwah berani menyampaikan haramnya pacaran, jika ia sendiri pacaran. Tidak mungkin akan menyampaikan tentang hijab yang benar (misal pendakwah muslimah), jika ia sendiri tidak menutup aurat sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul. Tidak mungkin dengan berani seorang pengemban dakwah mengatakan bahwa riba itu haram,  jika seorang pengemban dakwah itu adalah pelaku riba. 

            Mungkin banyak yang kita temui, seorang mahasiswa jurusan Syariah tapi pacaran. Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tapi pacaran. Apa yang membuat mereka seperti itu? Jawabannya karena mereka tidak berdakwah. Hanya belajar tapi tidak diamalkan dan disebarkan. Itu baru namanya NATO (Not Action Tack Only). Hanya teori. Praktek dakwahnya mana bro? Padahal Suri tauladan manusia, Muhammad SAW bersabda:

Apabila seorang manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yakni: shaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih (HR Muslim dan Abu Dawud)

Ilmu akan bermanfaat jika didakwahkan. Tak patutlah orang mencaci pengemban dakwah yang belum fasih bahasa arab atau belum banyak hapal alqur’an. Karena apa? Karena mereka berani dan mau menerima perintah dari Allah tentang berdakwah. Seharusnya menjadi cambuk bagi yang hapal alqur’an tapi tidak digunakan untuk berdakwah. 

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian (HR Tirmidzi)
           
            So,, Jika hidupmu akan lebih hidup, BER-DAK-WAH-LAH !

Sabtu, 08 Desember 2012

Living the Afterlife


Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang asing atau bahkan sekedar lewat (HR BUKHARI)

Kenapa?

Mereka tidak senang dengan safarnya.

Mereka memahami bahwa mereka pergi hanya sementara

Mereka menyadari bahwa semua akan ditinggalkan

Mereka merindukan berkumpul kembali pada tempatnya




Kehidupan ini adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir (HR. MUSLIM)

Abu Bakar As-Shiddiq sampai berdoa " Ya Allah jadikanlah dunia di tangan kami. Bukan di hati kami.

Berapa sebenarnya harga dunia itu?
"Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jari ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?" (HR MUSLIM)

LAMAKAH PERANTAU INI?
Manusia zaman ini hidup dengan umur  rata-rata 70 tahun. Sedangkan Rasul 63 tahun. Apakah ini termasuk yang lama?

Sesungguhnya Lama Perantauan Kita adalah....

"Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?". Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, Maka Tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu Sesungguhnya mengetahui" ( Al-Mu'minuun : 112-114)


" Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari" (79:46)

"Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan Pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk"

Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian kepada kalian (HR HAKIMDAN THABRANI)

1 hari di dunia = 50.000 tahun di akhirat


Artinya?

Perantauan kita hanyalah 2 MENIT 1 DETIK

Mashaallah...

"Tiap-tiap yanng berjiwa pasti akan merasakan mati" (al-anbiya:35)

"...tiap-tiap umat mempunyai ajal. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (10:49)

"Manusia itu seakan-akan dikepung oleh 99 macam sebab kematian. Jika kesemua itu gagal mengenainya, dia pasti tidak akan bisa mengelak dari usia tua"(HR TIRMIDZI)

Wahai hamba ALLAH..
Kemanakah tujuan Anda?
Seandainya ini ibadah kita yang terakhir??





Sabtu, 29 September 2012

Mau Dikasih Makan Apa?


Pertanyaan yang sama selalu ditujukan ketika saya utarakan niat baik saya untuk berhenti menjomblo dengan jalan menikah. Saya sebenarnya ingin tahun ini juga menghentikan status jomblo ini. Tapi orangtua inginkan tahun depan saja. Meminjam lagunya Melly Goeslow " Sudah diubun-ubun cinta mengusik resah, tak dapat kumelawan walau hatiku menjerit." Ya, begitulah yang terjadi pada saya. Sungguh sendiri itu dosa, beristri itu pahala. Namun ternyata banyak yang terheran-heran dengan niat saya mengakhiri status menyakitkan ini. Aneh banget, coba kalo saya memutuskan untuk punya pacar, gak ada yang akan terheran-heran. Mereka bertanya seperti ini," Mau kamu kasih makan apa anak dan istrimu."

Itu pertanyaan benar-benar menyesakkan. Saya tahu mereka bertanya seperti itu kepada saya karna saat ini saya sedang tertatih-tatih mencari rejeki. Ngelamar kerja sana sini tak jua punya titik terang. Mencoba dengan jalan usaha, tak ada dukungan. Tapi saya tidak putus asa, saya selalu meyakini bahwa semua akan indah pada waktunya. Saya punya Allah yang sangat sayang pada saya meski saya masih sering hanyut dalam maksiat. Tapi saya meyakini, niat baik akan selalu diberikan jalan olehNya. You'll find the way, Mas Maher menyemangati saya dengan lagunya.

Menikah itu sangat disukai Allah dan pacaran sangat dibenci Allah. Pacaran rentan maksiat, menikah rentan rahmat(Ngutip status facebook teman). Sepasang suami istri yang saling menatap dengan nafsu, Allah akan menatap mereka dengan rahmat(ngutip di gramedia, bukunya lupa apa judulnya). Keren kan?
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS_An Nuur_32).

Itu kan, Lu percaya gak dengan Al-qur'an. kalo percaya kenapa lu takut gak bisa kasih makan anak istri.xixixi.

Masalahnya adalah kita masih jauh dengan Allah, sehingga kita tahu ada jaminan berupa janjiNya, tapi kita tetap ragu. Manusia selalu menghitung dengan logika, tapi hitungan Allah adalah 'kun faya kun'. Karena itu saya mengajak jamaah terkhusus saya sendiri untuk selalu meningkatkan ketakwaan pada Allah swt(udah kayak pembukaan khutbah jum'at aja).

An-nur: 32 telah terbukti oleh mata kepala saya sendiri. Ubak dan Umak saya menikah tanpa sepeser pun uang. Mereka tinggal di sawah warisan nenek. Tapi buktinya, kami bisa punya rumah, saya bisa kuliah. Masih gak percaya? :) Ayuk dan kakak ipar saya, saya ingat betul, setelah menikah mereka hanya jualan ikan di pasar, sekarang? sudah jadi bos ikan, karyawannya banyak, rumahnya mewah, anaknya yang masih SD udah dibelikan laptop.hehe. Semua akan indah pada waktunya.

Karna itu syawal depan, apapun yang terjadi, saya akan mengakhiri status jomblo ini. Please, jangan bertanya lagi,"mau kasih makan apa?". Jika ingin menunggu kaya dulu baru menikah, usia berapa kau akan menikah. Menikahlah, maka kau kan kaya.

Saya selau percaya, percaya, dan percaya. Meski saya masih jauh dariNya. Mari percaya selalu pada janji-janjiNya.

Jangan terpedaya jaman kacau seperti ini. Pacaran dibenarkan, menikah dipertanyakan. Aneh.


Jumat, 28 September 2012

AKU CEMBURU


Ada cemburu yang besar Ketika ibu mengatakan kalau aku sangat berbeda dengan kakak."Kau itu beda sekali dengan kakakmu. Kakakmu itu rajin, tidak pemalas." Itu cemburuku yang pertama.

Ada cemburu yang besar pada teman-teman sebaya, ketika mereka asik bermain, aku justru harus ke sawah, mencari keong mas, belalang, menjaga padi dari burung-burung.

Ada cemburu yang besar ketika ingin melanjutkan ke SMP di desa lain. Teman yang merupakan tetanggaku dengan tanpa meminta langsung dibelikan sepeda baru, sementara aku  disuruh menabung dulu.

 Ada cemburu besar, ketika yang lain sedang asik bermimpi indah, ketika ayam belum banyak berkokok. Tali kelambu sudah terlepas. Ayah membangunkanku dan menyuruhku belajar. Aku protes ini baru jam 4 subuh. Tapi Ayah tetap melakukannya hingga aku menjadi terbiasa.

 Ada banyak cemburu ketika aku bersama ayah dan ibu.
 Ada banyak protes yang hanya kupendam dalam hati.

 Tetapi, aku baru mengerti. Bukan hanya aku yang cemburu. Banyak yang cemburu pada ayah dan ibu. Mereka cemburu karena memiliki anak yang patuh dan taat. Aku pernah mendengarnya langsung "enak ya punya anak yang gak nakal-nakal. Gimana sih caranya?"

 Ayah dan Ibu.
Terimakasih telah banyak membuatku cemburu.
Cemburu itu indah.
Dan aku masih ingin diajarkan agar tetap cemburu.

 Aku cemburu pada mereka yang indah melantukan qur'an, menghapalkannya, dan mengamalkannya.
Aku cemburu pada mereka yang pandai berbicara di depan orang banyak hingga yang mendengar terpesona
Aku cemburu pada mereka yang punya banyak harta dan membelanjakan harta itu di jalanMu
Aku cemburu pada mereka yang tak kenal lelah menuntut ilmu dan mengajarkannya
Aku cemburu pada mereka yang bermanfaat untuk orang banyak
Sungguh, aku cemburu


HARI INI, HARI TERAKHIR AKU HIDUP




HARI INI, HARI TERAKHIR AKU HIDUP

Aku kini membiasakan diri untuk mengucapkan kalimat itu. Setiap bangun pagi, aku katakan pada diri sendiri bahwa hari ini adalah hari terakhir aku hidup. Dan ternyata, kalimat itu sangat ampuh. Bukan! bukan melemahkan. Kalimat itu justru seperti energi kehidupan yang sesungguhnya. Maka beberapa menit aku sempatkan menelpon di kampung, membersihkan tempat tinggal, dan mengirimkan sms-sms motivasi.

 Karena hari ini adalah hari terakhir aku hidup. Maka aku berusaha melakukan aktivitas semaksimal mungkin. Segala amanah tak lagi kutunda. Aku ingin orang-orang yang mengenalku menulis namaku dengan indah. Maka sebisa mungkin aku akan menjaga setiap kata-kataku. Jangan sampai lidah ini menyakiti perasaan orang lain. 

 Karena hari ini adalah hari terakhir aku hidup. Sebanyak mungkin aku akan berbagi. Berbagi apa yang kubisa. Tersenyum sebanyak mungkin. Memberikan perhatian pada teman-teman yang sakit. Karena itu aku takkan menolak ketika diberi amanah apapun itu. Aku akan bernyanyi untuk sebuah acara, aku akan jadi MC, aku akan menjadi PJ, dsb. 

 Karena hari ini terakhir aku hidup. Karena itulah kerinduanku semakin menggebu. Aku ingin segera bertemu denganNya. Karena itu aku ingin khusu' dalam sujudku. Karena itu aku menangis di sepertiga malamNya. Karena itu aku ingin selalu dekat denganNya, meski tak semesra kekasih-kekasihNya.

 Hari ini adalah hari terakhir aku hidup. Barangkali kau tak percaya. Tapi aku selalu percaya bahwa setiap hari bagiku adalah hari terakhir.

Selasa, 25 September 2012

Doing Not Waiting


wow, hebat, keren, kok bisa?

Kata-kata itu yang selalu keluar saat kita menyaksikan orang-orang yang kita sebut luar biasa. Ketika teman kita di sekolah mendapatkan prestasi dalam hal akademik, ketika teman kita selalu menjadi wakil sekolah dalam ajang lomba, kita akan bertanya kok bisa? apa bedanya kita dengan mereka?

Sesungguhnya, tidak ada yang beda. Sama-sama ciptaan Allah kan? sama-sama makan nasi?hehe. Lalu kenapa? Kenapa kita lebih banyak menjadi penonton daripada pemain. Lebih sering memberikan tepuk tangan kepada teman kita yang luar biasa itu. Kita takjub seolah-olah dia memang dilahirkan untuk seperti itu.

Cobalah tanyakan pada orang-orang yang luar biasa itu. Apa mereka hanya bersantai ria saja? Tentu saja tidak mungkin. Secerdas apa pun seorang pelajar jika dia tidak belajar dan terus mengulang, tidak akan mungkin bisa mendapatkan prestasi. Mungkin kita melihat teman kita santai-santai saja. Sebenarnya yang kita lihat dengan mata tidak salah, karena waktu kita lihat dia memang sedang santai, tapi waktu kita tidak bersamanya? Tidak mungkin seorang pemain bola selincah Lionel Messi hanya santai-santai saja. Ia berlatih dan terus berlatih hingga bola menjadi takluk ketika berada di kakinya.

Lalu bagaimana dengan kita?
Oke, Jika kamu cemburu bin iri kepada orang-oang yang luar biasa itu, artinya ada kesempatan untuk kamu seperti mereka. Tentu saja cemburu pada prestasi-prestasi yang baik, bukan prestasi seperti mencontek (eh emang mencontek itu prestasi ya?:)

Rasululah SAW bersabda,
"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain."(HR. Muslim).

Jadi jelas, kita boleh iri pada mereka yang berharta dan membelanjakan harta itu di jalan Allah. Dan kita boleh iri pada mereka yang punya ilmu (prestasi).
Lalu untuk bisa seperti orang-orang yang luar biasa itu, how?
Jawabannya adalah Doing Not Waiting.
Meminjam lirik lagunya Zhivillia : Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku saat kuharus bersabar dan bersabar menantikan kehadiran dirimu.

Ya eyalah menunggu memang sangat menyebalkan. Karena itu jangan menunggu. Percuma kalau menunggu saja. Karena itu jangan menunggu. Tapi melakukan. Katakan ini dan catat:

Aku tidak menunggu harus hapal alqur’an dan hadits dulu baru berdakwah tapi yang kulakukan adalah terus belajar dan menyampaikan meski sedikit yang kudapatkan dari belajar.

Aku tidak menunggu nilai 100 tetapi yang kulakukan adalah belajar dan terus belajar, mengulang dan terus mengulang , bertanya jika ada mata pelajaran yang tidak megerti, diskusi dengan teman, dan sebagainya.

Aku tidak menunggu harus pandai bicara baru mau jika disuruh pidato. Tapi yang kulakukan adalah berani untuk berbicara di depan umum, apa pun yang terjadi. Karena waktu tak pernah menungguku. Kesempatan takkan datang untuk kedua kali. Kalau pun dia datang pasti bukan untukku lagi.

Dengan Doing aku akan menjadi orang-orang hebat seperti mereka. Sebab orang hebat tidak pernah menunggu tapi mereka melakukan. Aku bisa seperti mereka. Aku bisa.
Akhir tulisan ini saya tulis kembali puisi Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi. Puisi yang indah seindah prestasi-prestasi kita.

Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
Serta perjalanan roh jagad ini
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim
Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatanNya
Menuju keabadian masa
(Kahlil Gibran)