Rasa takut menjadi sifat manusia. Celakanya ketakutan yang
terjadi adalah takut pada yang belum terjadi. Beberapa malam yang lalu
teman saya mengirim sebuah pesan berisi curhatan hatinya.
“Aku Ingin menikah tapi aku takut aku tidak mampu. Gajiku hanya
1.500.000. Bagaimana mungkin aku akan bertanggungjawab pada anak gadis
orang. Untuk diriku sendiri tak cukup.”
Aku tersenyum membaca pesan itu. Sungguh penghasilannya dua kali lipat dari penghasilanku. Bagaimana mungkin merasa tidak cukup?
Baiklah, aku ingin berbagi tentang keyakinanku bahwa rizki itu
datangnya hanya dari Allah bukan dari manusia. Apa yang tertulis dalam
pesan itu tersirat makna bahwa dialah yang berhak memberikan rizki
kepada istrinya. Karena itu dia teramat takut. Padahal jika dia meyakini
rizki itu hanya dari Allah. Tentu ketakutan tanpa alasan itu
takkan terjadi.
“Allah tidak meminta rizki kepada engkau, kamilah yang memberi engkau
rizki. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa”( QS
Thaha :132)
Apa yang telah termaktub dalam kitab-Nya mutlak benar. Dan kebenaran
itu telah kubuktikan sendiri. Adalah aku merasa malu ketika di usia yang
sedewasa ini masih meminta pada orangtua. Karena itu aku beranikan diri
apapun yang terjadi aku tidak boleh mengambil sedikitpun uang dari
orangtuaku. Ketika aku diberi aku dengan lembut menolak.
“Tapi kau cuma guru SD. Apa cukup?” Umakku sangat khawatir.
Aku menjawab dengan melantunkan firman Allah :
“Allah Mahalembut kepada hamba-hambaNya, Dia memberi rizki kepada siapa yang Dia kehendaki” (asy-Syura:19)
Sesuatu yang memang aku rasa aneh. Dulu aku diberi uang berjuta-juta
tapi habis dalam satu bulan untuk hal-hal yang tak berguna. Sekarang
dalam sebulan penghasilanku hanya 600ribu-700ribu tapi aku masih bisa
menyisakan banyak untuk membeli buku-buku.
Apakah setelah aku bertekad untuk tidak meminta lagi pada orangtua
rizki-ku akan terhenti? Apakah aku akan mati kelaparan? Jawabnya tidak.
Ada-ada saja jalan rizki itu. Percayalah?
Jika Allah cukupi semut hingga singa di hutan
Pantaskah kita berharap pada selain Allah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar