Seperti sebiji kurma dan seteguk air putih di waktu berbuka.
Nikmatnya tiada tara. Barangkali seperti itulah nikmatnya pernikahan
tanpa pacaran. Ia juga manusia, punya rasa yang sama. Ia ingin bercinta
dan bercumbu. Ia ingin mengecup kening kekasih hati. Ia ingin
menggandeng mesra tangan lembut sang bidadari. Ia ingin seperti yang
lain. Ia sama, punya rasa, punya cinta. Tapi ada yang membuatnya
berbeda. Ia alihkan rasa itu pada cinta yang lebih hakiki, Cinta yang
Menciptakan Cinta.
Hidup dalam kesendirian teramat
berat. Godaan datang bak hujan yang berloncatan. Ia bukan nabi Yusuf
yang tak tergoda pada Zulaiha. Ia lekaki biasa. Tapi cintanya pada yang
menciptakan Cinta membuatnya seolah tak biasa. Ia rela asing bagi
sekelilingnya.Gendang telinganya mulai biasa ketika ada yang menyebutnya
tak normal.Duhai, jika yang menciptakan Cinta saja melarang untuk
bercinta, tentu ada sebabnya. Ah, tidak Allah tidak melarang. Allah akan
memberikan rahmat. Tapi tentu rahmatt pada cinta yang halal. Bukan
cinta tanpa syahadat.
Seperti seteguk air putih di waktu berbuka. Nikmatnya sungguh tiada tara.
Aku
tahu kenapa manusia lebih sempurna dari malaikat. Jelas saja, karena
manusia punya keinginan, punya gairah untuk mencintai. Sedang malaikat
ia tak punyai itu. Wajarlah jika malaikat taat dan tak pernah ingkar
pada Tuhannya. Tapi manusia, dengan segala nafsu yang dimilikinya, ia
kuatkan, ia kuatkan dirinya. Ia menahannya hingga waktu berbuka itu
tiba. Hingga seteguk air putih pun terasa seperti air susu yang langsung
diberi Allah dari surgaNya. Bukankah tujuh golongan yang akan dinaungi
Allah langsung di kala matahari sepenggal di atas kepala salah satunya
adalah ia yang 'puasa' terhadap wanita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar