SELAMAT DATANG,KAWAN
SELAMILAH JEJAKKU DI SINI

Kamis, 03 Januari 2013

Seperti Seteguk Air Putih Saat Berbuka

Seperti sebiji kurma dan seteguk air putih di waktu berbuka. Nikmatnya tiada tara. Barangkali seperti itulah nikmatnya pernikahan tanpa pacaran. Ia juga manusia, punya rasa yang sama. Ia ingin bercinta dan bercumbu. Ia ingin mengecup kening kekasih hati. Ia ingin menggandeng mesra tangan  lembut sang bidadari. Ia ingin seperti yang lain. Ia sama, punya rasa, punya cinta. Tapi ada yang membuatnya berbeda. Ia alihkan rasa itu pada cinta yang lebih hakiki, Cinta yang Menciptakan Cinta.

 Hidup dalam kesendirian teramat berat. Godaan datang bak hujan yang berloncatan. Ia bukan nabi Yusuf yang tak tergoda pada Zulaiha. Ia lekaki biasa. Tapi cintanya pada yang menciptakan Cinta membuatnya seolah tak biasa. Ia rela asing bagi sekelilingnya.Gendang telinganya mulai biasa ketika ada yang menyebutnya tak normal.Duhai, jika yang menciptakan Cinta saja melarang untuk bercinta, tentu ada sebabnya. Ah, tidak Allah tidak melarang. Allah akan memberikan rahmat. Tapi tentu rahmatt pada cinta yang halal. Bukan cinta tanpa syahadat.

 Seperti seteguk air putih di waktu berbuka. Nikmatnya sungguh tiada tara.
Aku tahu kenapa manusia lebih sempurna dari malaikat. Jelas saja, karena manusia punya keinginan, punya gairah untuk mencintai. Sedang malaikat ia tak punyai itu. Wajarlah jika malaikat taat dan tak pernah ingkar pada Tuhannya. Tapi manusia, dengan segala nafsu yang dimilikinya, ia kuatkan, ia kuatkan dirinya. Ia menahannya hingga waktu berbuka itu tiba. Hingga seteguk air putih pun terasa seperti air susu yang langsung diberi Allah dari surgaNya. Bukankah tujuh golongan yang akan dinaungi Allah langsung di kala matahari sepenggal di atas kepala salah satunya adalah ia yang 'puasa' terhadap wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar