Siapa yang tidak mengenal Umar bin Khattab. Seorang
Khalifah yang sangat memikirkan keadaan rakyatnya. Beliau menangis saat tahu
ada rakyatnya yang kelaparan. Beliau sangat takut jika seekor unta terseok dalam
lubang karena jalan yang tidak bagus. Dan masih banyak cerita-cerita yang
mengisahkan betapa mulianya Beliau di mata Islam. Beliau layak menjadi kekasih
Allah. Namun tahukah siapa Umar bin Khattab sebelum mengenal Islam. Sebelum
Beliau mewakafkan dirinya untuk tegaknya agama Allah. Beliau bukan siapa-siapa
dan sangat tidak berarti apa-apa, bahkan
mungkin sangat dibenci oleh orang-orang yang mengenal Beliau karena
banyaknya maksiat yang Beliau lakukan seperti minum-minuman keras dan
lain-lain. Islam dan dakwahlah yang membuat Umar bin Khatab menjadi ‘Singa’
dalam Islam.
Lalu contoh lain di zaman ini misalnya Ustad Felix Siauw.
Saya percaya sebagian dari kita mengenal Islamic Inspirator ini. Siapa Beliau? Beliau juga bukan siapa-siapa
dan tak berarti apa-apa. Ada atau tidak adanya di dunia akan sama saja. Namun
itu dulu sebelum Beliau mengenal Islam dan berkomitmen untuk total dalam
berdakwah menyerukan Islam kepada umat. Ketika dijelaskan bahwa Islam sedang
dikucilkan, Islam saat ini terpinggir di sudut-sudut zaman, Islam membutuhkan
pedang-pedang Allah. Maka tak ada jalan lain selain dengan dakwah. Dan Beliau
pun menjual dirinya untuk Islam. Semoga dibeli oleh Allah dengan surga
firdaus-Nya. Aamiin.
Komitmen untuk berdakwah mengubah hidup seseorang. Memang
awalnya akan banyak cacian dan ejekan. Berubah itu butuh pengorbanan. Apalagi dulu kita dikenal sangat jauh dari
Islam. Contohnya lagi dari Ustad Felix. Beliau adalah non muslim. Lalu masuk
Islam dan berani menyampaikan Islam di depan khalayak. Banyak suara-suara
sumbang yang keluar. Misalnya “Ah muallaf aja belagu. Baru juga masuk Islam
udah ngaku-ngaku Ustad. Sok paling benar, baca alqur’an saja tajwidnya
kemana-mana.”
Dakwah mengubah hidupmu. Mereka bilang “Baca alqur’an
saja belum lurus, udah berani-berani menyampaikan Islam”. Pendakwah hebat
tersenyum dan berterimakasih atas kritikan itu. Sepahit-pahit kritik semoga
menjadi obat. Pendakwah hebat menjawab kritik itu dengan terus memperbaiki
bacaan alqur’an bahkan menghapalnya.
Dakwah
mengubah hidupmu. Mereka bilang “Kamu itu jangan sok. Bahasa arab saja tidak
bisa”. Pendakwah hebat tersenyum dan
berterimakasih atas kritikan itu. Sepahit-pahit kritik semoga menjadi obat.
Pendakwah hebat menjawab kritik itu dengan cara bertekad harus bisa bahasa arab
dan tentu saja ia semangat untuk mempelajari bahasa arab. Mencari guru bahasa
arab. Belajar.
Dakwah adalah cinta. Dan jika seseorang telah jatuh cinta
pada sesuatu, maka ia akan melakukan apapun untuk yang ia cintai. Seorang Ayah
karena cinta kepada anak dan istrinya rela banting tulang, kaki jadi kepala,
kepala jadi kaki untuk dapat membahagiakan anak dan istrinya. Seorang Ibu akan
mengorbankan nyawanya untuk melahirkan buah hati harapan jiwa. Akan melakukan
apapun agar anaknya tumbuh menjadi anak yang diinginkan. Begitu pun dengan
dakwah karena cinta pada Islam, rindu Islam kembali seperti pada masa
keemasan-Nya, merindukan pemimpin seperti Umar bin Khattab yang hanya akan
menjadi ketika ketika system yang diterapkan adalah Sistem Islam. Karena cinta
itulah, pengemban dakwah akan terus meningkatkan kualitas dirinya baik nafsiyah
maupun aqliyah.
Dakwah mengubah hidupmu. Tidak mungkin seorang pengemban
dakwah berani menyampaikan haramnya pacaran, jika ia sendiri pacaran. Tidak
mungkin akan menyampaikan tentang hijab yang benar (misal pendakwah muslimah),
jika ia sendiri tidak menutup aurat sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan
Rasul. Tidak mungkin dengan berani seorang pengemban dakwah mengatakan bahwa
riba itu haram, jika seorang pengemban
dakwah itu adalah pelaku riba.
Mungkin banyak yang kita temui, seorang mahasiswa jurusan
Syariah tapi pacaran. Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tapi pacaran.
Apa yang membuat mereka seperti itu? Jawabannya karena mereka tidak berdakwah.
Hanya belajar tapi tidak diamalkan dan disebarkan. Itu baru namanya NATO (Not
Action Tack Only). Hanya teori. Praktek dakwahnya mana bro? Padahal Suri
tauladan manusia, Muhammad SAW bersabda:
Apabila
seorang manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yakni: shaqah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih (HR
Muslim dan Abu Dawud)
Ilmu
akan bermanfaat jika didakwahkan. Tak patutlah orang mencaci pengemban dakwah
yang belum fasih bahasa arab atau belum banyak hapal alqur’an. Karena apa?
Karena mereka berani dan mau menerima perintah dari Allah tentang berdakwah.
Seharusnya menjadi cambuk bagi yang hapal alqur’an tapi tidak digunakan untuk
berdakwah.
Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar ma’ruf dan
nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari-Nya kemudian kalian berdoa
kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian (HR
Tirmidzi)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar