Ada cemburu yang besar Ketika ibu mengatakan kalau aku sangat berbeda dengan kakak."Kau itu beda sekali dengan kakakmu. Kakakmu itu rajin, tidak pemalas." Itu cemburuku yang pertama.
Ada cemburu yang besar pada teman-teman sebaya, ketika mereka asik bermain, aku justru harus ke sawah, mencari keong mas, belalang, menjaga padi dari burung-burung.
Ada cemburu yang besar ketika ingin melanjutkan ke SMP di desa lain. Teman yang merupakan tetanggaku dengan tanpa meminta langsung dibelikan sepeda baru, sementara aku disuruh menabung dulu.
Ada cemburu besar, ketika yang lain sedang asik bermimpi indah, ketika ayam belum banyak berkokok. Tali kelambu sudah terlepas. Ayah membangunkanku dan menyuruhku belajar. Aku protes ini baru jam 4 subuh. Tapi Ayah tetap melakukannya hingga aku menjadi terbiasa.
Ada banyak cemburu ketika aku bersama ayah dan ibu.
Ada banyak protes yang hanya kupendam dalam hati.
Tetapi, aku baru mengerti. Bukan hanya aku yang cemburu. Banyak yang cemburu pada ayah dan ibu. Mereka cemburu karena memiliki anak yang patuh dan taat. Aku pernah mendengarnya langsung "enak ya punya anak yang gak nakal-nakal. Gimana sih caranya?"
Ayah dan Ibu.
Terimakasih telah banyak membuatku cemburu.
Cemburu itu indah.
Dan aku masih ingin diajarkan agar tetap cemburu.
Aku cemburu pada mereka yang indah melantukan qur'an, menghapalkannya, dan mengamalkannya.
Aku cemburu pada mereka yang pandai berbicara di depan orang banyak hingga yang mendengar terpesona
Aku cemburu pada mereka yang punya banyak harta dan membelanjakan harta itu di jalanMu
Aku cemburu pada mereka yang tak kenal lelah menuntut ilmu dan mengajarkannya
Aku cemburu pada mereka yang bermanfaat untuk orang banyak
Sungguh, aku cemburu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar