SELAMAT DATANG,KAWAN
SELAMILAH JEJAKKU DI SINI

Rabu, 26 September 2012

Aku Masih Kecil, Mak


Semalam aku ketakutan persis takutnya aku pada cerita kuntilanak yang menghuni pohon tua di dekat sungai Batang Hari. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, ingin kuteriakkan,” aku masih kecil.” Aku masih kecil, memang. Baru beberapa bulan di SD N 1 Mengulak. Memakai sepatu saja aku belum bisa. Tetapi bisik-bisik kecil semalam memaksaku untuk menutup selimut lebih dalam.
“Puko, bangun, sudah siang. Sekolah kan?”
Oh Umak lupa kalau hari ini hari minggu. Sebenarnya hari apa pun, aku tidak pernah kesiangan. Bukan kesiangan, lebih tepatnya molor. Hari ini aku sengaja untuk tetap bertahan dalam kelambu. Aku masih ketakutan mengingat apa yang direncanakan Ubak dan Umak.
“Oh iya, hari ini hari minggu. Kamu tidak ikut kiaimu ke sungai. Biasanya kalian pergi ke sungai.”
Kiai? Gara-gara dia juga aku ketakutan seperti ini. Kiai sudah kelas lima SD. Makanya Ubak dan Umak merasa sudah waktunya untuk melakukan pemotongan. Memang. Tetapi tidak untukku . Aku masih kecil mak, bak.
“Ayo bangun, Nanti Ubakmu marah.”
“Aku masih kecil…” tanpa sadar aku berteriak.
“Eh, masih mimpi.”
Umak hanya tersenyum melihat tingkah anehku hari ini. Aneh? Merekalah yang aneh. Aku masih kecil, aku takut!!
Aku masih ingat apa yang Umak dan Ubak diskusikan. Aku belum tidur. Aku mendengarnya dengan jelas.
“Zani sudah kelas lima. Sepertinya sudah waktunya. “
“Lalu Puko?” tanya Umak.
Ubak sedikit berpikir, semenit kemudian tersenyum. Lalu ia membisikkan Umak. Umak pun tersenyum. Aku tahu apa yang Ubak bisikkan. Aku tahu. Aku akan disamakan dengan Kiai.
***
Entah bagaimana ceritanya, bisikan semalam sudah menyebar di seluruh gendang telinga. Teman-teman di kelas begitu kompak mengkerumuniku, persis seperti gerombolan semut yang hinggap di atas gula. Macam-macak ekspresi yang mereka mainkan. Ada yang terkagum-kagum menganggapku ksatria. Ada yang sangsi, mimiknya nampak ketakutan. Ada yang iri. Dan ada banyak ekpsresi lainnya.
“Hebat kau, Puko. Masih kecil sudah akan dipotong.”
Sontak saja semua tertawa. Wajar saja ada yang memujiku hebat. Soalnya mahluk yang berjenis kelamin laki-laki di kampungku belum ada yang akan sepertiku. Paling kecil kelas tiga. Sedang aku? Baru beberapa bulan di kelas satu.
“Semoga tidak terjadi apa-apa denganmu, teman.”   
Ucapan ini yang membuat ketakutanku semakin menjadi-jadi. Semoga tidak terjadi apa-apa. Ah, apakah mungkin orangtua akan membunuh anaknya sendiri. Tidak. Tidak mungkin.
“Puko, kau akan menjadi yang pertama di antara kita. Kami akan belajar darimu. Kami akan bertanya padamu. Sukses teman.”
Hoalah. Si Syafe’i omongannya udah kayak orang dewasa banget. Apa karena pengaruh cita-citanya yang ingin seperti Ustad Somad. Entahlah. Aku harus bahagia atau bersedih. Yang pasti aku tidak mungkin bisa lagi mencegah bisikan itu. Aku tahu Ubak. Keputusannya tidak pernah bisa terbantahkan.
Sementara kegiatan sehabis magrib hari ini nampak begitu berbeda dengan hari-hari yang lainnya. Wajah Ustads Somad begitu sumringah melihat Kiai dan aku. Aku dan Kiai begitu diistimewakan. Aku dan Kiai duduk di depan bersama Ustad Somad.
“Kalian tahu. Kenapa anak laki-laki diperintahkan untuk disunat?” tanya Ustads Somad.
“Biar bisa bertemu bidadari di syurga, Ustad,” jawab Syafe’i cepat. Ustad Somad hanya tersenyum. Lalu menceritakan betapa indahnya Islam itu. Islam begitu peduli pada manusia, sampai pada perintah pemotongan pun ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Rasanya, tidak perlu  aku menceritakan apa yang disampaikan Ustad Somad. Yang jelas, Tuhan tidak akan memerintahkan yang tidak baik untuk manusia.
***
Kelak, aku akan dikelilingi bidadari-bidadari syurga. Bagaimana mungkin bidadari-bidadari itu akan mendekat jika aku tidak melakukan pemotongan. Ketakutanku pun raib seketika. Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Bukankah Nabi Ismail merelakan lehernya untuk dipotong ayahnya? Dan Tuhan menggantikannya dengan keindahan. Aku dan kiai tidak akan dipotong lehernya dengan pisau yang tajam. Aku dan kiai hanya akan menjalani hal yang lumrah, yang biasa. Hanya masalahnya padaku? Kata-kata ‘aku masih kecil’ yang membuat aku ketakutan. Tetapi, hari ini aku pejamkan mataku dan meyakinkan diri sendiri,” Semua akan baik-baik saja.”
Dua minggu lagi pemotongan itu akan dilakukan. Berbagai mitos pun diceritakan pada kiai dan aku.
“Ingat, Jangan sampai kalian melangkahi tahi ayam, apalagi sampai menginjaknya.”  Nasehat seorang laki-laki yang sudah mengalami pemotongan.
“Memangnya kenapa?” tanya kiai.
“Kau akan kesakitan…Kesakitan...”
Wow, aku tidak ingin mendengar kata-kata itu. Bermacam-macam nasehat yang diberikan pada kami. Hingga aku harus menghentikan acara bermainku bersama teman-teman. Aku hanya sekolah, setelah itu tidak kemana-mana lagi.
Dan…aku pun melanggar nasehat. Menjelang esok acara pemotongan, tanpa sengaja aku telah menginjak tahi ayam. Ini tidak sengaja. Ini malam, aku tidak melihatnya. Sungguh. Aku menjadi ketakutan. Masih terngiang nasehat itu, “Kau akan kesakitan…kesakitan…”
Aku berlari menuju kamarku dan menguncinya. Di luar sana sudah ramai. Keluarga besar sudah berkumpul. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Asap-asap beraroma bumbu-bumbu masakan bercampur menusuk-nusuk perut. Aku ingin tetap di kamar ini. Aku sudah melanggar. Aku takut. Aku masih kecil…
Keesokan harinya…
Aku masih bersembunyi dalam kamar. Semalam aku tidak bisa memejamkan mata barang sekejap saja. Suara adzan subuh terdengar memilukan. Hari ini aku akan dipotong. Hari ini aku akan kesakitan. Kata Ustad Somad malaikat maut mencabut nyawa dengan sangat keras. Pedih. Ini akan terjadi padaku. Oh, seharusnya tahi ayam itu tidak aku injak.
:           ”Puko…Puko...”
“Di mana Puko?”
“Sudah jam delapan.”
Astaga, sudah jam delapan. Mereka mencariku?
Terdengar suara ketukan dengan nada empat per empat.
“Puko…”
Aku kenal suara itu. Itu suara Ubak. Aku tidak mungkin terus menahan bibirku. Aku harus membukanya. Aku takut pada Ubak. Aku takut ia marah.
“Ayo mandi, bersiaplah.” Ucap Ubak saat aku membukakan pintu kamar.
“Lihat kiaimu sudah siap. Dia sudah banyak dapat uang. Kenapa kamu sembunyi?”
Aku langsung menangis, menangis, hingga semua orang memandangku dengan senyam senyum. Umak mendekatiku, ia menciumku.
“Kamu kenapa, sayang.”
“A,,,aku,,,masih kecil, mak…Aku sudah melanggar.”
“Melanggar apa?”
“Tahi ayam.”
Umak tertawa, yang hadir pun ikut tertawa. Umak mencium pipiku sekali lagi.
“Jangan kau percaya. Itu hanya kebohongan, agar kau tidak main-main di luar rumah.”
Aku pun menghapus airmataku. Aku dimandikan, entah siapa yang memandikanku. Setelah itu aku dipakaikan kostum sama seperti kostum kiai. Kostum kebesaran raja dengan corak merah dan manik-manik kuning. Dipasangkan topi mirip topi China. Umak menciumku sekali lagi. Ubak juga. Di depan rumah sudah bertalu-talu suara musik yang riang, kadang juga syahdu. Aku dan kiai dinaikkan di atas gerobak tinggi. Luar biasa, kami seperti putra mahkkota dari kerajaan Sriwijaya.
Sebelum naik, Umak mendekati kami. Diciumnya aku dan kiai. Berkali-kali Umak menciumi kami. Ubak hanya tersenyum. Dan sedetik kemudian airmata jatuh dari pelupuk mata mereka. Aku tahu, mereka menangis bukan karena bersedih. Mereka bahagia. Aku pun tanpa sadar menitikkan air mata, begitu pula Kiai. Inilah awal kehidupan itu.
Semua teman-temanku ikut mengiringi perjalanan kami. Aku dan kiai akan di arak keliling kampung. Aku melihat laki-laki yang mengajarkan untuk tidak mengijnak tahi ayam. Ia nampak tertawa memperhatikanku. Mungkin aku memang bodoh, sampai harus bersembunyi. Inilah hal yang tidak bisa kulupakan. Jika mengingatnya aku akan menitikkan airmata. Begitu istimewanya pesta ini. Orangtua kami begitu menyayangi kami.


***
Setelah puas diarak. Acara yang mengerikan pun dimulai. Kiai yang duluan, aku masih menunggu. Aku tidak melihatnya, aku hanya mendapatkan kabar. Pemotongan itu berdarah. Ah, aku semakin ketakutan. Tidak, aku tidak boleh takut. Malu, jika pemotongan ini tidak terjadi. Aku malu pada teman-temanku. Akhirnya giliranku, kostum kebesaran telah diganti dengan sarung. Aku berdoa pada Tuhan, “Ya Allah, aku ingin bertemu bidadari-Mu. Mudahkanlah, semoga tidak ada kesakitan. amin…”
Aku menggigit bibirku dengan cukup keras. Menyakitkan memang. Tetapi hanya sekejap, setelah itu dingin yang kurasakan.  Aku juga sempat tersenyum ,saat bapak-bapak bermain teka-teki.
“Lebih susah mana, melahirkan atau disunat?”
“Melahirkan…” Jawab mereka kompak.
“Salah.”
“Lo?”
“Iya buktinya, disunat cuma sekali seumur hidup. Sedangkan melahirkan bisa berkali-kali. Itu artinya apa? disunat lebih menyakitkan daripada melahirkan.”
Sontak semua tertawa, termasuk mantri yang akan memotongku, aku pun ikut tersenyum. Meski sakit.

Catatan:
Umak = Ibu
Ubak = Ayah
Kiai = Kakak

3 komentar: