Ayahku jagoan. Kata teman-teman, ayahku seperti Ramboo. Aih, bukan main
senangnya aku memiliki ayah sehebat ayahku.Tetapi jangan pikir kalau tubuh dan
isi dadanya 100% terbuat dari baja. Tidak, ayah mempunyai hati yang
lembut bahkan aku pernah melihatnya menitikkan air mata. Dan yang lebih luar
biasa lagi ayahku pintar memainkan gitar. Gitar tua yang katanya pemberian
sahabat lamanya telah menjadi istri kedua ayah. Tahukah kau kawan, gitar tua
itu menjadi kenangan yang tidak bisa ayah lupakan. Meskipun amnesia menjemput
ingatannya, ayah tidak akan bisa melupakannya. Gitar tua itu merupakan mahar
ayah untuk melamar bunda. So sweet kan ? :)
Dalam aku termenung hatiku selalu
Teringat padamu, hei kekasihku
Tak dapat kulupakan meskipun kau jauh
Bila kah engkau datang, hei kekasihku
Jika ayah sudah melantunkan lagu itu, burung pipit akan hinggap di pucuk
pohon jambu depan rumah kami. Petikan gitar dan suara ayah seolah memanggil
mereka untuk sejenak menyaksikan hiburan gratis. Ajaib memang, sangat
mempesona. Suara ayah hampir mengalahkan vokalnya Imam S. Arifin. Begitu amboi.
Apalagi jika ayah melantunkannya di waktu senja ditemani desir angin yang
halus. Ayah begitu menjiwai, ekspresi kesahduannya membuat langit ngilu.
"Kenapa ayah sangat menyukai lagu itu?" Tanyaku.
"Bukan cuma ayah yang sangat menyukainya. Bundamu juga."
Ayahku lelaki paling setia yang aku tahu. Itu yang membuatku
mengidolakannya melebihi Romeo dalam kisah cinta Romeo and Juliet. Ayahku masih
muda, ayah juga punya cukup harta. Ayah bisa saja memacari wanita-wanita yang
ia suka. Tetapi, sudah kukatakan. Ayahku adalah laki-laki yang luar biasa.
"Kenapa ayah begitu mencintai bunda? Begitu istimewakah bunda?"
"Ketulusan hati Bundamu seperti Khadijah. Kecantikannya seperti
Aisyah. Ayah tidak bisa menemukan sosok bundamu dari perempuan lain."
"Berarti Yuza tidak akan bisa memiliki istri seperti bunda?"
Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Yuza masih kecil. Apa Yuza sudah mau menikah?" Ayah kembali
tersenyum.
"Yuza takut tidak bisa mendapatkan istri seperti bunda, ayah."
"Yuza..kamu jadi anak yang baik saja, belajar yang rajin, dan selalu
doakan bundamu. Jika kau ingin mencari hati bundamu dari perempuan lain. Kau
tidak akan menemukannya. Tetapi ayah percaya, kelak kamu akan mendapatkan istri
yang baik, yang soleha. Yang penting kamu harus jadi anak yang baik. Umurmu
baru 13 tahun. Perjalananmu masih panjang." Ayah mengusap kepalaku lembut.
Lalu kembalii dipetiknya gitar tua itu dan kembali bernyanyi.
Duduk sini nak, dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri
Ayah melantunkan lagu Iwan Fals, aku bahagia mendengar lagu itu. Lagu yang
mengisyratkan ketegaran dan keberanian untuk menghadapi dunia masa depan,,
meski sendiri. Aku lihat di pucuk pohon jambu, burung-burung masih
bertengger dengan damainya. Seakan ada isyarat yang ingin mereka katakan.
Seakan mereka juga ingin ikut bernyanyi bersama kami. Nun jauh di awan sana,
Aku percaya bunda melilhat kebahagiaan ini. Bunda melihat kami dari cermin yang
ada di syurga. Aku selalu membayangkan jika bunda ada di sini, pasti suasana
akan lebih berarti. Semenjak aku fasih mengeja nama ayah, aku tidak lagi
melihatnya di sini. Tetapi aku tidak bersedih. Ayah melarangku untuk menjatuhkan
airmata setitik saja. Meski diam-diam aku pernah mendapati ayah menangis
tatkala ia menggenggam foto bunda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar