SELAMAT DATANG,KAWAN
SELAMILAH JEJAKKU DI SINI

Rabu, 26 September 2012

Ayahku Jagoan



Ayahku jagoan. Kata teman-teman, ayahku seperti Ramboo. Aih, bukan main senangnya aku memiliki ayah sehebat ayahku.Tetapi jangan pikir kalau tubuh dan isi dadanya  100% terbuat dari baja. Tidak, ayah mempunyai hati yang lembut bahkan aku pernah melihatnya menitikkan air mata. Dan yang lebih luar biasa lagi ayahku pintar memainkan gitar. Gitar tua yang katanya pemberian sahabat lamanya telah menjadi istri kedua ayah. Tahukah kau kawan, gitar tua itu menjadi kenangan yang tidak bisa ayah lupakan. Meskipun amnesia menjemput ingatannya, ayah tidak akan bisa melupakannya. Gitar tua itu merupakan mahar ayah untuk melamar bunda. So sweet kan ? :)

Dalam aku termenung hatiku selalu
Teringat padamu, hei kekasihku
Tak dapat kulupakan meskipun kau jauh
Bila kah engkau datang, hei kekasihku

Jika ayah sudah melantunkan lagu itu, burung pipit akan hinggap di pucuk pohon jambu depan rumah kami. Petikan gitar dan suara ayah seolah memanggil mereka untuk sejenak menyaksikan hiburan gratis. Ajaib memang, sangat mempesona. Suara ayah hampir mengalahkan vokalnya Imam S. Arifin. Begitu amboi. Apalagi jika ayah melantunkannya di waktu senja ditemani desir angin yang halus. Ayah begitu menjiwai, ekspresi kesahduannya membuat langit ngilu.

"Kenapa ayah sangat menyukai lagu itu?" Tanyaku.
"Bukan cuma ayah yang sangat menyukainya. Bundamu juga."

Ayahku lelaki paling setia yang aku tahu. Itu yang membuatku mengidolakannya melebihi Romeo dalam kisah cinta Romeo and Juliet. Ayahku masih muda, ayah juga punya cukup harta. Ayah bisa saja memacari wanita-wanita yang ia suka. Tetapi, sudah kukatakan. Ayahku adalah laki-laki yang luar biasa.

"Kenapa ayah begitu mencintai bunda? Begitu istimewakah bunda?"

"Ketulusan hati Bundamu seperti Khadijah. Kecantikannya seperti Aisyah. Ayah tidak bisa menemukan sosok bundamu dari perempuan lain."

"Berarti Yuza tidak akan bisa memiliki istri seperti bunda?"

Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku.

"Yuza masih kecil. Apa Yuza sudah mau menikah?" Ayah kembali tersenyum.

"Yuza takut tidak bisa mendapatkan istri seperti bunda, ayah."

"Yuza..kamu jadi anak yang baik saja, belajar yang rajin, dan selalu doakan bundamu. Jika kau ingin mencari hati bundamu dari perempuan lain. Kau tidak akan menemukannya. Tetapi ayah percaya, kelak kamu akan mendapatkan istri yang baik, yang soleha. Yang penting kamu harus jadi anak yang baik. Umurmu baru 13 tahun. Perjalananmu masih panjang." Ayah mengusap kepalaku lembut. Lalu kembalii dipetiknya gitar tua itu dan kembali bernyanyi.

Duduk sini nak, dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Ayah melantunkan lagu Iwan Fals, aku bahagia mendengar lagu itu. Lagu yang mengisyratkan ketegaran dan keberanian untuk menghadapi dunia masa depan,, meski sendiri.  Aku lihat di pucuk pohon jambu, burung-burung masih bertengger dengan damainya. Seakan ada isyarat yang ingin mereka katakan. Seakan mereka juga ingin ikut bernyanyi bersama kami. Nun jauh di awan sana, Aku percaya bunda melilhat kebahagiaan ini. Bunda melihat kami dari cermin yang ada di syurga. Aku selalu membayangkan jika bunda ada di sini, pasti suasana akan lebih berarti. Semenjak aku fasih mengeja nama ayah, aku tidak lagi melihatnya di sini. Tetapi aku tidak bersedih. Ayah melarangku untuk menjatuhkan airmata setitik saja. Meski diam-diam aku pernah mendapati ayah menangis tatkala ia menggenggam foto bunda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar