SELAMAT DATANG,KAWAN
SELAMILAH JEJAKKU DI SINI

Rabu, 26 September 2012

Bidadariku


Dengan lantunan gaib yang dahsyat
Aku menyapamu hai sang keramat
Salam takzimku memberi hormat
Semoga kau tetap lekat
Untukmu berdoa para Malaikat

Dengan bisikan senandung hati
kurayu kau hai Azimat hati
kemarilah..dekap Aku seperti bayi
Aku rindu ciuman sang Bidadari
Wangi, bak bunga dari surgawi

Dengan udara mimpi-mimpi
kuajak kau menelusuri bumi
Lihatlah..itu negeri para pemimpi
Negerinya putra mungilmu ini
Jadi jangan tangisi,ini hanya ilusi yang pasti


Ayo Bidadari..
Ayo Menari.
Aku tunjukkan aksi,kau jangan sangsi
Aku tahu doamu sejajar dengan doa Nabi
Ayo menari
menari dengan untaian suci

Kau istimewa,jadi jangan sedih lagi
Bidadari bermata jeli tak ada arti
Kaulah Bidadari sejati

Ibu..kau bidadari itu
Sumpah..Kau Bidadari itu..


Aku Masih Kecil, Mak


Semalam aku ketakutan persis takutnya aku pada cerita kuntilanak yang menghuni pohon tua di dekat sungai Batang Hari. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, ingin kuteriakkan,” aku masih kecil.” Aku masih kecil, memang. Baru beberapa bulan di SD N 1 Mengulak. Memakai sepatu saja aku belum bisa. Tetapi bisik-bisik kecil semalam memaksaku untuk menutup selimut lebih dalam.
“Puko, bangun, sudah siang. Sekolah kan?”
Oh Umak lupa kalau hari ini hari minggu. Sebenarnya hari apa pun, aku tidak pernah kesiangan. Bukan kesiangan, lebih tepatnya molor. Hari ini aku sengaja untuk tetap bertahan dalam kelambu. Aku masih ketakutan mengingat apa yang direncanakan Ubak dan Umak.
“Oh iya, hari ini hari minggu. Kamu tidak ikut kiaimu ke sungai. Biasanya kalian pergi ke sungai.”
Kiai? Gara-gara dia juga aku ketakutan seperti ini. Kiai sudah kelas lima SD. Makanya Ubak dan Umak merasa sudah waktunya untuk melakukan pemotongan. Memang. Tetapi tidak untukku . Aku masih kecil mak, bak.
“Ayo bangun, Nanti Ubakmu marah.”
“Aku masih kecil…” tanpa sadar aku berteriak.
“Eh, masih mimpi.”
Umak hanya tersenyum melihat tingkah anehku hari ini. Aneh? Merekalah yang aneh. Aku masih kecil, aku takut!!
Aku masih ingat apa yang Umak dan Ubak diskusikan. Aku belum tidur. Aku mendengarnya dengan jelas.
“Zani sudah kelas lima. Sepertinya sudah waktunya. “
“Lalu Puko?” tanya Umak.
Ubak sedikit berpikir, semenit kemudian tersenyum. Lalu ia membisikkan Umak. Umak pun tersenyum. Aku tahu apa yang Ubak bisikkan. Aku tahu. Aku akan disamakan dengan Kiai.
***
Entah bagaimana ceritanya, bisikan semalam sudah menyebar di seluruh gendang telinga. Teman-teman di kelas begitu kompak mengkerumuniku, persis seperti gerombolan semut yang hinggap di atas gula. Macam-macak ekspresi yang mereka mainkan. Ada yang terkagum-kagum menganggapku ksatria. Ada yang sangsi, mimiknya nampak ketakutan. Ada yang iri. Dan ada banyak ekpsresi lainnya.
“Hebat kau, Puko. Masih kecil sudah akan dipotong.”
Sontak saja semua tertawa. Wajar saja ada yang memujiku hebat. Soalnya mahluk yang berjenis kelamin laki-laki di kampungku belum ada yang akan sepertiku. Paling kecil kelas tiga. Sedang aku? Baru beberapa bulan di kelas satu.
“Semoga tidak terjadi apa-apa denganmu, teman.”   
Ucapan ini yang membuat ketakutanku semakin menjadi-jadi. Semoga tidak terjadi apa-apa. Ah, apakah mungkin orangtua akan membunuh anaknya sendiri. Tidak. Tidak mungkin.
“Puko, kau akan menjadi yang pertama di antara kita. Kami akan belajar darimu. Kami akan bertanya padamu. Sukses teman.”
Hoalah. Si Syafe’i omongannya udah kayak orang dewasa banget. Apa karena pengaruh cita-citanya yang ingin seperti Ustad Somad. Entahlah. Aku harus bahagia atau bersedih. Yang pasti aku tidak mungkin bisa lagi mencegah bisikan itu. Aku tahu Ubak. Keputusannya tidak pernah bisa terbantahkan.
Sementara kegiatan sehabis magrib hari ini nampak begitu berbeda dengan hari-hari yang lainnya. Wajah Ustads Somad begitu sumringah melihat Kiai dan aku. Aku dan Kiai begitu diistimewakan. Aku dan Kiai duduk di depan bersama Ustad Somad.
“Kalian tahu. Kenapa anak laki-laki diperintahkan untuk disunat?” tanya Ustads Somad.
“Biar bisa bertemu bidadari di syurga, Ustad,” jawab Syafe’i cepat. Ustad Somad hanya tersenyum. Lalu menceritakan betapa indahnya Islam itu. Islam begitu peduli pada manusia, sampai pada perintah pemotongan pun ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Rasanya, tidak perlu  aku menceritakan apa yang disampaikan Ustad Somad. Yang jelas, Tuhan tidak akan memerintahkan yang tidak baik untuk manusia.
***
Kelak, aku akan dikelilingi bidadari-bidadari syurga. Bagaimana mungkin bidadari-bidadari itu akan mendekat jika aku tidak melakukan pemotongan. Ketakutanku pun raib seketika. Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Bukankah Nabi Ismail merelakan lehernya untuk dipotong ayahnya? Dan Tuhan menggantikannya dengan keindahan. Aku dan kiai tidak akan dipotong lehernya dengan pisau yang tajam. Aku dan kiai hanya akan menjalani hal yang lumrah, yang biasa. Hanya masalahnya padaku? Kata-kata ‘aku masih kecil’ yang membuat aku ketakutan. Tetapi, hari ini aku pejamkan mataku dan meyakinkan diri sendiri,” Semua akan baik-baik saja.”
Dua minggu lagi pemotongan itu akan dilakukan. Berbagai mitos pun diceritakan pada kiai dan aku.
“Ingat, Jangan sampai kalian melangkahi tahi ayam, apalagi sampai menginjaknya.”  Nasehat seorang laki-laki yang sudah mengalami pemotongan.
“Memangnya kenapa?” tanya kiai.
“Kau akan kesakitan…Kesakitan...”
Wow, aku tidak ingin mendengar kata-kata itu. Bermacam-macam nasehat yang diberikan pada kami. Hingga aku harus menghentikan acara bermainku bersama teman-teman. Aku hanya sekolah, setelah itu tidak kemana-mana lagi.
Dan…aku pun melanggar nasehat. Menjelang esok acara pemotongan, tanpa sengaja aku telah menginjak tahi ayam. Ini tidak sengaja. Ini malam, aku tidak melihatnya. Sungguh. Aku menjadi ketakutan. Masih terngiang nasehat itu, “Kau akan kesakitan…kesakitan…”
Aku berlari menuju kamarku dan menguncinya. Di luar sana sudah ramai. Keluarga besar sudah berkumpul. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Asap-asap beraroma bumbu-bumbu masakan bercampur menusuk-nusuk perut. Aku ingin tetap di kamar ini. Aku sudah melanggar. Aku takut. Aku masih kecil…
Keesokan harinya…
Aku masih bersembunyi dalam kamar. Semalam aku tidak bisa memejamkan mata barang sekejap saja. Suara adzan subuh terdengar memilukan. Hari ini aku akan dipotong. Hari ini aku akan kesakitan. Kata Ustad Somad malaikat maut mencabut nyawa dengan sangat keras. Pedih. Ini akan terjadi padaku. Oh, seharusnya tahi ayam itu tidak aku injak.
:           ”Puko…Puko...”
“Di mana Puko?”
“Sudah jam delapan.”
Astaga, sudah jam delapan. Mereka mencariku?
Terdengar suara ketukan dengan nada empat per empat.
“Puko…”
Aku kenal suara itu. Itu suara Ubak. Aku tidak mungkin terus menahan bibirku. Aku harus membukanya. Aku takut pada Ubak. Aku takut ia marah.
“Ayo mandi, bersiaplah.” Ucap Ubak saat aku membukakan pintu kamar.
“Lihat kiaimu sudah siap. Dia sudah banyak dapat uang. Kenapa kamu sembunyi?”
Aku langsung menangis, menangis, hingga semua orang memandangku dengan senyam senyum. Umak mendekatiku, ia menciumku.
“Kamu kenapa, sayang.”
“A,,,aku,,,masih kecil, mak…Aku sudah melanggar.”
“Melanggar apa?”
“Tahi ayam.”
Umak tertawa, yang hadir pun ikut tertawa. Umak mencium pipiku sekali lagi.
“Jangan kau percaya. Itu hanya kebohongan, agar kau tidak main-main di luar rumah.”
Aku pun menghapus airmataku. Aku dimandikan, entah siapa yang memandikanku. Setelah itu aku dipakaikan kostum sama seperti kostum kiai. Kostum kebesaran raja dengan corak merah dan manik-manik kuning. Dipasangkan topi mirip topi China. Umak menciumku sekali lagi. Ubak juga. Di depan rumah sudah bertalu-talu suara musik yang riang, kadang juga syahdu. Aku dan kiai dinaikkan di atas gerobak tinggi. Luar biasa, kami seperti putra mahkkota dari kerajaan Sriwijaya.
Sebelum naik, Umak mendekati kami. Diciumnya aku dan kiai. Berkali-kali Umak menciumi kami. Ubak hanya tersenyum. Dan sedetik kemudian airmata jatuh dari pelupuk mata mereka. Aku tahu, mereka menangis bukan karena bersedih. Mereka bahagia. Aku pun tanpa sadar menitikkan air mata, begitu pula Kiai. Inilah awal kehidupan itu.
Semua teman-temanku ikut mengiringi perjalanan kami. Aku dan kiai akan di arak keliling kampung. Aku melihat laki-laki yang mengajarkan untuk tidak mengijnak tahi ayam. Ia nampak tertawa memperhatikanku. Mungkin aku memang bodoh, sampai harus bersembunyi. Inilah hal yang tidak bisa kulupakan. Jika mengingatnya aku akan menitikkan airmata. Begitu istimewanya pesta ini. Orangtua kami begitu menyayangi kami.


***
Setelah puas diarak. Acara yang mengerikan pun dimulai. Kiai yang duluan, aku masih menunggu. Aku tidak melihatnya, aku hanya mendapatkan kabar. Pemotongan itu berdarah. Ah, aku semakin ketakutan. Tidak, aku tidak boleh takut. Malu, jika pemotongan ini tidak terjadi. Aku malu pada teman-temanku. Akhirnya giliranku, kostum kebesaran telah diganti dengan sarung. Aku berdoa pada Tuhan, “Ya Allah, aku ingin bertemu bidadari-Mu. Mudahkanlah, semoga tidak ada kesakitan. amin…”
Aku menggigit bibirku dengan cukup keras. Menyakitkan memang. Tetapi hanya sekejap, setelah itu dingin yang kurasakan.  Aku juga sempat tersenyum ,saat bapak-bapak bermain teka-teki.
“Lebih susah mana, melahirkan atau disunat?”
“Melahirkan…” Jawab mereka kompak.
“Salah.”
“Lo?”
“Iya buktinya, disunat cuma sekali seumur hidup. Sedangkan melahirkan bisa berkali-kali. Itu artinya apa? disunat lebih menyakitkan daripada melahirkan.”
Sontak semua tertawa, termasuk mantri yang akan memotongku, aku pun ikut tersenyum. Meski sakit.

Catatan:
Umak = Ibu
Ubak = Ayah
Kiai = Kakak

Ayahku Jagoan



Ayahku jagoan. Kata teman-teman, ayahku seperti Ramboo. Aih, bukan main senangnya aku memiliki ayah sehebat ayahku.Tetapi jangan pikir kalau tubuh dan isi dadanya  100% terbuat dari baja. Tidak, ayah mempunyai hati yang lembut bahkan aku pernah melihatnya menitikkan air mata. Dan yang lebih luar biasa lagi ayahku pintar memainkan gitar. Gitar tua yang katanya pemberian sahabat lamanya telah menjadi istri kedua ayah. Tahukah kau kawan, gitar tua itu menjadi kenangan yang tidak bisa ayah lupakan. Meskipun amnesia menjemput ingatannya, ayah tidak akan bisa melupakannya. Gitar tua itu merupakan mahar ayah untuk melamar bunda. So sweet kan ? :)

Dalam aku termenung hatiku selalu
Teringat padamu, hei kekasihku
Tak dapat kulupakan meskipun kau jauh
Bila kah engkau datang, hei kekasihku

Jika ayah sudah melantunkan lagu itu, burung pipit akan hinggap di pucuk pohon jambu depan rumah kami. Petikan gitar dan suara ayah seolah memanggil mereka untuk sejenak menyaksikan hiburan gratis. Ajaib memang, sangat mempesona. Suara ayah hampir mengalahkan vokalnya Imam S. Arifin. Begitu amboi. Apalagi jika ayah melantunkannya di waktu senja ditemani desir angin yang halus. Ayah begitu menjiwai, ekspresi kesahduannya membuat langit ngilu.

"Kenapa ayah sangat menyukai lagu itu?" Tanyaku.
"Bukan cuma ayah yang sangat menyukainya. Bundamu juga."

Ayahku lelaki paling setia yang aku tahu. Itu yang membuatku mengidolakannya melebihi Romeo dalam kisah cinta Romeo and Juliet. Ayahku masih muda, ayah juga punya cukup harta. Ayah bisa saja memacari wanita-wanita yang ia suka. Tetapi, sudah kukatakan. Ayahku adalah laki-laki yang luar biasa.

"Kenapa ayah begitu mencintai bunda? Begitu istimewakah bunda?"

"Ketulusan hati Bundamu seperti Khadijah. Kecantikannya seperti Aisyah. Ayah tidak bisa menemukan sosok bundamu dari perempuan lain."

"Berarti Yuza tidak akan bisa memiliki istri seperti bunda?"

Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku.

"Yuza masih kecil. Apa Yuza sudah mau menikah?" Ayah kembali tersenyum.

"Yuza takut tidak bisa mendapatkan istri seperti bunda, ayah."

"Yuza..kamu jadi anak yang baik saja, belajar yang rajin, dan selalu doakan bundamu. Jika kau ingin mencari hati bundamu dari perempuan lain. Kau tidak akan menemukannya. Tetapi ayah percaya, kelak kamu akan mendapatkan istri yang baik, yang soleha. Yang penting kamu harus jadi anak yang baik. Umurmu baru 13 tahun. Perjalananmu masih panjang." Ayah mengusap kepalaku lembut. Lalu kembalii dipetiknya gitar tua itu dan kembali bernyanyi.

Duduk sini nak, dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Ayah melantunkan lagu Iwan Fals, aku bahagia mendengar lagu itu. Lagu yang mengisyratkan ketegaran dan keberanian untuk menghadapi dunia masa depan,, meski sendiri.  Aku lihat di pucuk pohon jambu, burung-burung masih bertengger dengan damainya. Seakan ada isyarat yang ingin mereka katakan. Seakan mereka juga ingin ikut bernyanyi bersama kami. Nun jauh di awan sana, Aku percaya bunda melilhat kebahagiaan ini. Bunda melihat kami dari cermin yang ada di syurga. Aku selalu membayangkan jika bunda ada di sini, pasti suasana akan lebih berarti. Semenjak aku fasih mengeja nama ayah, aku tidak lagi melihatnya di sini. Tetapi aku tidak bersedih. Ayah melarangku untuk menjatuhkan airmata setitik saja. Meski diam-diam aku pernah mendapati ayah menangis tatkala ia menggenggam foto bunda.

RISALAH INI BERNAMA TANYA


Tuhan…Saat pertama tangisku mengudara di bumi-Mu, saat itulah kesejukan merasuki gendang telingaku. Sebelum aku mengeja dunia ini lebih jauh, sebelum aku tahu manisnya gula dan asamnya cuka, sebelum  aku tahu ada tawa juga ada tangis. Kata ibu, Ayah telah mengenalkan nama-Mu lewat panggilan suci, Adzan. Aku tidak tahu untuk apa? Hanya mencoba mengerti bahwa tiada yang abadi selain Dirimu. Terlebih saat mereka, orang-orang terdekat, Kau renggut tanpa permisi.

Tuhan…Aku ingin marah pada-Mu, Kenapa kau ciptakan luka? Kenapa kau hadirkan tangis? Kenapa musibah menimpa bertubi-tubi?  Apa Salah kami? Tetapi, aku tersadar, Kau yang menggemgam jiwa ini. Bahkan nafas yang tersisa ini adalah milik-Mu.

Tuhan…Lihatlah! Perempuan yang hanya nampak tulang di sana. Dulu, ia tidak seperti itu. Dulu, ia teramat bahagia melihat anak-anaknya bercanda, tertawa, bertengkar kecil. Kini, semuanya nampak berbeda. Wajahnya jarang menyimpulkan senyum, terlihat jelas sisa-sisa luka yang masih menggelayut dengan sempurna. Apa yang telah Kau lakukan Tuhan? Apa kesalahannya. Dia itu ibuku. Aku sudah bosan memungut air mata dukanya.

Lihat juga laki-laki berkumis di sana. Ia memang masih terlihat kokoh, berbeda dengan ibu. Tetapi aku tahu, dalam jiwanya penuh kegalauan. Lihatlah, jarang sekali dia di rumah. Hanya malam ketika mata sudah mengajak sunyi bermimpi, itu pun jika hatinya sedikit tenang. Ia, laki-laki itu sengaja menyibukkan dirinya di luar rumah. Bekerja dan bekerja. Untuk apa? Ia tidak ingin larut dalam duka. Ia ingin menumpahkan sakitnya pada kesibukannya. Lelaki itu ayahku. Ayah yang teramat tegar meski semua yang ia lakukan berakhir dengan kekecewaan.

Tuhan…Kau tahu kan, Ibu selalu mengajarkanku doa. Sebelum dan sesudah tidur, sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah bepergian, sebelum apa pun, sesudah apa pun. Ibu selalu menyuruhku untuk menyebut-Mu di mana pun, apa pun yang aku lakukan. Ibu sangat mencintai-Mu Tuhan. Apakah Kau juga mencintai Ibu?

Begitu pun Ayah. Ayah selalu mengajarkan pada kami untuk berbuat baik pada siapa saja. Untuk selalu menjalankan perintah-Mu dan meninggalkan larangan-Mu. Sesungguhnya aku beruntung dilahirkan dari ibu yang lembut hatinya juga ayah yang teramat bijaksana. Tetapi kenapa, cobaan tiada henti Kau berikan untuk Kami Tuhan? Kenapa?

Mei 2000…
Telah Kau ambil, ia kakak perempuanku yang baru saja menyelesaikan SMAnya. Dia yang begitu manis dengan dua tahi lalat di atas bibirnya. Kata mitos, orang yang punya tahi lalat di situ, orangnya cerewet dan pemarah. Hahaha, tapi memang tidak salah. Ia memang cerewet, cerewet untuk menyuruhku tidak banyak bermain di luar rumah. Sesungguhnya kakak perempuanku itu teramat baik. Ia cerewet juga karena ia baik. Ia sayang pada kami. Ah, aku masih ingin lama bersamanya. Dialah yang pertama kali mengajarkanku bagaimana cara menggunakan sepatu bertali. Tuhan…Kenapa secepat itu ia Kau ambil dari kami? Di tengah hari yang terik, udara seperti api. Kakak perempuanku kecelakaan. Rumah sakit hanya mampu merawatnya selama 3 hari. Setelah itu? Ibu terkulai, ayah seperti daun gugur…
Tuhan…kami menangis, tetapi kami tetap bersabar. Karena kami percaya, semua ini yang terbaik untuk kami.

November 2007…
Telah Kau benamkan saudaraku satu-satunya. Ia yang hidupnya dipenuhi ambisi mimpi. Mimpi-mimpi untuk membangun rumah indah, untuk membahagiakan orangtua, untuk menggapai bintang. Ia kakakku, sosok yang sangat bersahabat dengan laut. Laut adalah dirinya dan dirinya adalah laut. Tetapi kenapa? Kenapa semua mimpi-mimpi indah itu harus secepat itu terhenti? Kenapa secepat itu senyum Kau hapus dari bibir ayah dan ibu? Kenapa Kapalnya Kau tenggelamkan. Bahkan hingga saat ini tiada kabar dari sesiapa, tidak juga dari camar yang selalu terbang menghiasi udara laut. Entah kemana pemimpi gila itu?  Masih adakah di bumi ini atau sudah lenyap  dimakan hantu laut. Di mana Tuhan, dimana kakakku?
Tuhan…Dia kakak laki-lakiku satu-satunya, Dia masih muda, dia sangat dibanggakan orangtuaku. Lihatlah, ibu sakit-sakitan hingga tubuhnya berbungkus tulang. Ayah seperti hidup tanpa arah yang jelas. Mereka sudah cukup tegar, mereka lelah untuk tetap tegar. Kau tahu kan, badai datang bertubi-tubi menguji bahtera yang ayah kemudikan. Bahkan mereka pernah hampir memutuskan untuk berpisah. Banyak hal yang kutemukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.  Menari di atas darah itulah mereka.
Tuhan…bukan maksudku untuk menyalahkan-Mu. Bukan pula aku mengeluh. Bukan juga aku tidak bisa menerima takdir-Mu. Tetapi, aku hanya ingin tidak ada lagi air mata hadir di pelupuk ibu, di pipi ayah. Aku ingin agar semuanya kembali seperti dulu. Seperti senyum bidadariku yang cantik. Seperti tatap lembut jagoanku yang gagah.
Tuhan…Aku ingin seperti dulu. Ya seperti dulu lagi.

Subhanallah…Maha Suci Engkau..
Maapkan kami yang kotor ini. Kami terlalu rapuh untuk bisa memahami-Mu. Terutama aku, aku selalu berprasangka buruk atas apa yang telah Kau timpakan pada kami. Tuhan…Bersihkan hatiku, hati ibu, hati ayah. Berilah penerang pada kami. Agar kami tetap istiqomah bersujud pada-Mu.
Allahuakbar…Kau lah yang Maha Besar
Kami ini hanya kecebong kecil di hadapan-Mu. Maka kumohon, beri kami hidup yang bahagia, tanpa luka, tanpa bukit lara. Jadikanlah kami orang-orang yang hatinya seperti telaga. Tenang, damai,  dan tetap sabar.
Tuhan…Aku ingin melihat ibu kembali tersenyum seperti dulu. Aku tidak ingin ia larut dalam kepedihan. Aku sudah bosan melihat air matanya.Ia menangis saat menggenggam poto kakak-kakakku, ia menangis menyaksikan pernikahan teman kakak-kakakku, ia menangis dengan semua memori yang tidak bisa dihilangkan. Aku sudah berusaha untuk selalu menenangkan ibu. Tetapi aku justru ikut menangis saat ibu memelukku.
Tuhan…Aku rindu Sholat jumat bersama ayah. Sudah lama…Ia teramat sibuk dengan pekerjaannya. Aku ingin seperti mereka yang setelah Jumat selesai, mereka mencium tangan ayahnya. Oh Ayah, untuk apa? Untuk apa kau terlalu menyibukkan diri bila untuk melupakan sakitmu? Ikhlaskan ayah, ikhlaskan…
Ketika Mawarku, Kau renggut tanpa permisi
Saat itulah jiwaku begitu tersakiti

Ketika Pedangku,Kau benamkan di dasar misteri
Saat itulah hatiku menjerit ngeri

Ketika Anggrekku layu,bertahun-tahun tanpa mentari
Saat itulah Aku ingin jauh berlari
Ketika Semua  masalah menghampiri dan hatiku sangat terbebani
Saat itulah aku bertanya, Untuk apa aku di sini?

Aku marah, aku benci, aku meratap
Aku marah pada-Mu, Kenapa kau ambil semua yang Kau beri?
Aku benci pada-Mu, kenapa harus mereka?
Aku meratap, mencari arti apa sesungguhnya yang Kau mau..

Oh aku salah
Kini aku mengerti…

Tuhan
Mawarku boleh kau rengggut..
Pedangku silahkan kau benamkan
Anggrekku biarkan tetap layu..
Mereka bukan milikku, Mereka milik-Mu..
Bahkan nafas yang tersisa ini berada dalam genggaman-Mu.













Selasa, 25 September 2012

Berpikirlah !

Manusia adalah sebaik-baik makhluk. Lihatlah, bagaimana pemilik alam semesta  memperlakukan manusia. saat pertama diciptakan, Allah memerintahkan pada seluruh makhluk untuk memberi penghormatan kepada Adam. Bagaimana mungkin cahaya tunduk pada tanah. Bagaimana mungkin tanah lebih mulia dari api. Maka, iblis menentang sang pencipta.

"Bagaimana mungkin? aku ini api, sedang dia tanah?"
"Aku lebih tahu, sedang kamu tidak tahu. Ikutilah Aku."
Iblis tidak mau peduli. Dia tidak ingin sujud pada Adam. Bukan hanya iblis yang bertanya, malaikat pun bertanya.Maka Allah bertanya pada adam tentang nama-nama. Takjub, Adam menyebutkannya dengan fasih. Iblis tetap tidak ingin mengakui keunggulan adam. Iblis tidak menerima apa yang dituliskan Allah.Maka, Allah menghukum iblis. Neraka itu luas, dan akan diperuntukkan untuk iblis dan yang serupa dengan iblis.

"Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat. pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan aku pasti menyesatkan mereka semuanya-Al-Hijr:39)
Sejak saat itulah permusuhan terjadi, dendam berkepanjangan. Sepanjang hidup masih ada, permusuhan antara iblis dan manusia akan terus berjalan. Tidak ada perdamaiaan. Tidak akan pernah ada.


Manusia adalah sebaik-baik makhluk. Kenapa? Coba perhatikan burung, sejak zaman nol hingga zaman sekarang, rumah yang dibuat, tidak pernah berubah, seperti itu-itu saja. Coba perhatikan rumah manusia, dengan segala corak dan arsitek, rumah manusia semakin mendekati akhir zaman semakin mempesona. Manusia disebut sebaik-baik mahluk karena manusia diberikan pikiran, cinta, dan hati.

Iqro'. Sang Maha menyeru manusia untuk membaca. Bacalah, bacalah wahai manusia. Bacalah. Apa yang harus kami baca. Kamu telah diberikan akal, bacalah kehidupan ini. Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang menciptakan(Al-alaq).

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal-Ali-Imran:190)"

Lihatlah, perhatikan. Bagaimana Allah memuliakan orang-orang yang ingin menggunakan akalnya. Allah mencintai orang-orang yang berpikir.

Mari, kita ulang kisah Ibrahim.
Ibrahim adalah nabi yang sangat menggunakan akalnya. Manusia pencari Tuhan, yang banyak bertanya. Siapa itu Tuhan? Tatkala malam menjelma, Ibrahim menyaksikan purnama? Apakah itu Tuhan? Tapi tanya itu terpupus tatkala bulan digantikan mentari. Ah, Tuhan tidak mungkin hilang. Lalu ketika datang mentari, Ibrahim bertanya lagi. Apakah itu Tuhan? Sungguh cahayanya menyilaukan, menghangatkan pagi. Apakah itu Tuhan. Namun tanya itu kembali pupus tatkala senja hilang dalam peraduannya. Tuhan tidak mungkin hilang. Tuhan tidak mungkin timbul tenggelam. Bertanya dan terus mencari. Hingga Ibrahim mendapatkan petunjuk yang sejati. Hingga api tak mampu membakar tubuhnya. Hingga Ibrahim mulia sebagai bapak para nabi.

Lalu, apakah kita tak ingin seperti Ibrahim?
Bertanya dan bertanya?
Mungkin kita tak harus mencari Tuhan. Sebab kita telah terlahir dari rahim ibu yang sewaktu kita dalam selendangnya, ibu selalu menyanyikan lagu "La Ila Ha ilallah". sebab kita telah tumbuh dari jerit keringat ayah yang sejak kita lahir telah menghapus airmata kita dengan suara adzannya. Lalu apa yang harus kita tanyakan? Apa yang harus kita pikirkan?

Berpikirlah. Berpikirlah tentang segalanya. Jika kau remaja atau seorang 'pencinta', berpikirlah,apakah pacaran itu dibolehkan Allah. Apakah harus bergandengan tangan, menyentuh jemari kekasihmu atau mengusap pipinya dengan kelembutan yang kau menamainya cinta. padahal, dia bukanlah siapa-siapa. Bukan istri, bukan suami, dia itu orang lain, yang kapan saja bisa pergi meninggalkan hati lalu kita menangis. Haruskah kita menceritakan semuanya pada dia yang tak halal, tentang apa saja yang kita lakukan. Haruskah menyuruhnya makan, menyuruhnya untuk tidak terlalu lelah, sms setiap waktu, menelponnya hingga telinga panas. Hei, sudahkah kau lakukan itu pada ibumu. Sudahkah kau buatkan secangkir teh manis untuk ayahmu sebelum ia bekerja?

Berpikirlah. Berpikirlah tentang segalanya.
Jika kau sedang sekolah. Jika kau sedang kuliah. Berpikirlah ! Haruskah melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai yang besar. Haruskah berbohong demi ambisi yang mungkin sekedar untuk mendapatkan pujian, mendapatkan penghargaan. Hei, lebih berartikan nilai 100 dibandingkan neraka?
Kau membenci korupsi tapi tanpa kau sadari, kau telah belajar untuk seperti mereka para koruptor.

Berpikirlah. Berpikirlah tentang segalanya.
Jika kau seorang perempuan tersenyumlah. Sebab Allah terlalu sayang padamu duhai mahluk cantik. Maka berpikirlah, kenapa Allah menyuruhmu untuk hanya menampakkan muka dan telapak tangan saja. Apakah Allah kejam? Tidak bukan? Allah begitu perhatian padamu duhai mahluk cantik. Allah ingin melindungimu dari tangan-tangan lelaki yang di jiwanya dipenuhi nafsu syetan. Allah ingin melihatmu bukan hanya cantik tapi juga anggun. Yang hargamu begitu mahal hingga tak ada satu mata uang pun yang dapat membelimu. Tidak ada intan seindahmu, tak ada mutiara secantikmu. Maka, berpikirlah, tutuplah auratmu. Allah sayang dan peduli padamu tapi kenapa kau sendiri tidak pernah mau peduli padamu.


Berpikirlah. Berpikirlah tentang segalanya.
Jika kau seorang laki-laki.Berpikirlah kenapa Allah menyuruhmu menundukkan pandangan. Kenapa? Bukankah kau punya ibu? Barangkali juga kau punya saudara perempuan. Bagaimana perasaanmu jika ibumu diganggu. Bagaimana perasaanmu jika saudara perempuanmu menangis meminta pertanggungjawaban pada lelaki yang telah hilang sejak 'peristiwa' itu. Kau akan marah bukan? Maka berpikirlah. Berhentilah mengganggu perempuan-perempuan yang sesungguhnya mereka teramat lemah untuk tidak tergoda pada kepandaianmu memperlakukannya. Kepadandaianmu dalam merayu hingga apapun akan diberikan perempuan. Tidak. Kumohon, jangan lakukan. Ingat! Ingat ibumu. Ingat saudara perempuanmu. Berpikirlah duhai lelaki yang akan dinaungi kesejukan saat mataharai sepenggal di kelapamu. Sebab kau telah mampu menahan godaan yang bernama perempuan. Itu janji langit. Percayalah.

Berpikirlah. Berpikirlah tentang segalanya.
Jika kau suka menonton berita di televisi. Berpikirlah kenapa tidak ada berita yang indah. Kenapa negeri ini penuh dengan airmata dan ketidakadilan. Berpikirlah kenapa banyak anak-anak telantar yang tidak dipelihara negara,Berpikirlah kenapa masih banyak sekolah seperti kandang sapi. Berpikirlah, kenapa negeri kaya negeri karya ini harus bersimbab luka. Berpikirlah, sampai kapan bangsa ini seperti ini.

Berpikirlah. Berpikirlah tentang segalanya.
....................................


Silahkan titik-titiknya diisi sendiri ya:)







Bianglala



            Bismillah…
Duhai jiwa yang lembut hatinya, tatkala mendengar rintih dan tangis dari sosok miskin yang telantar, jiwamu gelisah hatimu menjerit. Tatkala melihat televisi tentang berita besarnya perut dari orang-orang yang tubuhnya kurus kering atau ilmu kesehatan menamainya busung lapar, kamu menitikkan airmata. Tatkala seorang ibu kandung dengan sadar membunuh anaknya sendiri karena tak sanggup memberi makan, kamu menahan sesaknya dada. Bertanya dan bertanya. Kamu protes pada siapa saja. Kamu salahkan pengusa. Kamu caci maki mereka yang membiarkan semua itu terjadi. Beruntunglah duhai jiwa yang lembut hatinya. Karena sesungguhnya setiap airmatamu dicatat malaikat dan akan segera dibawa ke langit menuju Arsy-Nya . Airmatamu menggetarkan langit dan bumi. Sungguh, aku ingin seperti hatimu yang begitu- lembut.

Lalu kenapa pemilik semesta ini membiarkan mereka yang setiap harinya berderai airmata, yang setiap harinya harus berpura-pura menanakkan batu untuk dimakan, yang semuanya sia-sia, yang mereka harus pasrah dalam ketidakberdayaan. Inilah yang dinamai bianglala. Kau tahu bianglala? Bianglala itu nampak indah karena warnanya yang banyak. Jika warnanya cuma satu, tentu tak akan dinamai bianglala. Ya, itu rahasia langit yang akan kita ungkap. Ternyata, semesta sengaja menciptakan segalanya dengan dua sisi, dua jalan. Ada hitam ada putih. Ada siang ada malam. Ada bulan ada matahari. Ada tangis ada tawa. Ada kaya ada miskin.Karena itu pula ada surga ada neraka. Jika tidak ada yang miskin, maka siapakah yang akan disebut kaya. Jika semuanya baik, maka masih bisakah disebut baik. Ada orang baik karena ada orang jahat. Ada yang cantik karena ada yang tidak cantik. Begitulah, semua sudah diaturNya.

Karena itu Tuhan kita Allah swt, menyuruh kita untuk selalu berbagi. Yang kuat membantu yang lemah, yang kaya berbagi pada yang miskin. Allah menyuruh kita untuk berbagi. Bahkan sia-sia mereka yang sholat tanpa berbagi. Mereka disebut orang yang mendustakan agama jika hanya menumpuk-numpuk pahala dan mengejar-ngejar surga hanya untuk diri sendiri. Allah membenci orang yang egois.

 “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. Al Maa’uun Ayat 1-7,

Duhai jiwa yang lembut hatinya, kamu pasti geleng-geleng kepala, saat melihat banyaknya kejahatan yang ada di muka bumi ini. Pemerkosaan, perampokan, penebangan hutan, korupsi, dan lain-lain, dan lain-lain. Lagi dan lagi kamu tiada henti protes. Kenapa? Kenapa kejahatan tak pernah berakhir. Ya, mungkin takkan pernah berakhir. Tapi bersyukurlah karena semua itu menjadi tambahan pahala untukmu yang ingin menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

"Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya .Mereka akan diberi rahmat oleh Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (TQS At Taubah:71)

Banyak ayat yang menyuruh manusia untuk menyeru kebaikan. Ini artinya apa? Allah sudah mengertahui jika akan banyak orang-orang jahat di bumi ini. Bahkan saat Allah akan menciptakan manusia, malaikat melakukan protes.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (TQS Albaqarah: 30)

Maka kesimpulannya, tidak ada yang sia-sia. Semua ini adalah bianglala. Lalu? lalu apa? Lalu berterimakasihlah. Yang cantik berterimakasihlah kepada yang kurang cantik sebab takkan disebut cantik jika semua cantik. Yang pintar berterimakasihlah kepada yang kurang pintar,lagi dan lagi kukatakan ini adalah bianglala, sebab takkan ada guru jika tak ada murid. Yang kaya berterimakasihlah kepada yang miskin, maka kau yang diberi materi berlebihan, berbagilah. Yang baik berterimakasihlah kepada yang belum baik, maka ajaklah kepada kebaikan, akan menjadi pahala untukmu juga untuknya. Semua ini adalah bianglala. Tapi siapakah yang paling baik, yang paling disukai Allah?

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya kamu mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa”. (QS. Al-Hujurat ayat 13)

Ternyata dari semua warna yang ada, yang paling baik adalah yang bertakwa. Apa itu takwa? Aku percaya kita semua sudah mengerti.

Wallahu a’lam bi showab

Doing Not Waiting


wow, hebat, keren, kok bisa?

Kata-kata itu yang selalu keluar saat kita menyaksikan orang-orang yang kita sebut luar biasa. Ketika teman kita di sekolah mendapatkan prestasi dalam hal akademik, ketika teman kita selalu menjadi wakil sekolah dalam ajang lomba, kita akan bertanya kok bisa? apa bedanya kita dengan mereka?

Sesungguhnya, tidak ada yang beda. Sama-sama ciptaan Allah kan? sama-sama makan nasi?hehe. Lalu kenapa? Kenapa kita lebih banyak menjadi penonton daripada pemain. Lebih sering memberikan tepuk tangan kepada teman kita yang luar biasa itu. Kita takjub seolah-olah dia memang dilahirkan untuk seperti itu.

Cobalah tanyakan pada orang-orang yang luar biasa itu. Apa mereka hanya bersantai ria saja? Tentu saja tidak mungkin. Secerdas apa pun seorang pelajar jika dia tidak belajar dan terus mengulang, tidak akan mungkin bisa mendapatkan prestasi. Mungkin kita melihat teman kita santai-santai saja. Sebenarnya yang kita lihat dengan mata tidak salah, karena waktu kita lihat dia memang sedang santai, tapi waktu kita tidak bersamanya? Tidak mungkin seorang pemain bola selincah Lionel Messi hanya santai-santai saja. Ia berlatih dan terus berlatih hingga bola menjadi takluk ketika berada di kakinya.

Lalu bagaimana dengan kita?
Oke, Jika kamu cemburu bin iri kepada orang-oang yang luar biasa itu, artinya ada kesempatan untuk kamu seperti mereka. Tentu saja cemburu pada prestasi-prestasi yang baik, bukan prestasi seperti mencontek (eh emang mencontek itu prestasi ya?:)

Rasululah SAW bersabda,
"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain."(HR. Muslim).

Jadi jelas, kita boleh iri pada mereka yang berharta dan membelanjakan harta itu di jalan Allah. Dan kita boleh iri pada mereka yang punya ilmu (prestasi).
Lalu untuk bisa seperti orang-orang yang luar biasa itu, how?
Jawabannya adalah Doing Not Waiting.
Meminjam lirik lagunya Zhivillia : Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku saat kuharus bersabar dan bersabar menantikan kehadiran dirimu.

Ya eyalah menunggu memang sangat menyebalkan. Karena itu jangan menunggu. Percuma kalau menunggu saja. Karena itu jangan menunggu. Tapi melakukan. Katakan ini dan catat:

Aku tidak menunggu harus hapal alqur’an dan hadits dulu baru berdakwah tapi yang kulakukan adalah terus belajar dan menyampaikan meski sedikit yang kudapatkan dari belajar.

Aku tidak menunggu nilai 100 tetapi yang kulakukan adalah belajar dan terus belajar, mengulang dan terus mengulang , bertanya jika ada mata pelajaran yang tidak megerti, diskusi dengan teman, dan sebagainya.

Aku tidak menunggu harus pandai bicara baru mau jika disuruh pidato. Tapi yang kulakukan adalah berani untuk berbicara di depan umum, apa pun yang terjadi. Karena waktu tak pernah menungguku. Kesempatan takkan datang untuk kedua kali. Kalau pun dia datang pasti bukan untukku lagi.

Dengan Doing aku akan menjadi orang-orang hebat seperti mereka. Sebab orang hebat tidak pernah menunggu tapi mereka melakukan. Aku bisa seperti mereka. Aku bisa.
Akhir tulisan ini saya tulis kembali puisi Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi. Puisi yang indah seindah prestasi-prestasi kita.

Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
Serta perjalanan roh jagad ini
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim
Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatanNya
Menuju keabadian masa
(Kahlil Gibran)